Kamis, 20 Februari 2014

Ikhlas

Foto: Google



“Ya sudah, ikhlaskan saja.”
“Aku ikhlas ko.”
“Ikhlas bro, tapi masih...”

Saya yakin, kalimat itu sering kita dengar. Atau bahkan kita pernah mengucapkannya. Seringkali saat kita kehilangan atau harus merelakan sesuatu yang milik kita (atau mungkin belum menjadi milik kita), dengan sendirinya kita dituntut untuk ikhlas. Benarkah?

Baiklah, karena sering sekali merasa sulit untuk "ikhlas" saya mulai belajar, nguprek-nguprek tulisan, bahkan nanya-nanya tentang IKHLAS. Jadi ini tulisan hasil "observasi" dan keinginan untuk bisa ikhlas. Silahkan di simak yaa..

Ikhlas itu apa?

Sudah banyak teori yang mengkaji tentang ikhlas. Nah biasanya teori gampang kan ya, tapi selalu ada sanggahan yang mengatakan, “ah, tidak semudah itu.” Benar kan? Kenapa? Karena memang banyak sekali godaan untuk menjaga dan menggiring hati untuk ikhlas. Bahasa singkatnya, ikhlas itu sulit :)

Teman-teman, dalam Islam ikhlas ternyata mendapat perhatian khusus. Ini karena berkaitan dengan perbuatan kita. Segala sesuatu tergantung dari niatnya. Seperti tercantum dalam hadist berikut: 

Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niatnya dan tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka ia akan mendapatkan pahala hijrah karena Allah dan Rasulullah. Barang siapa yang hijrahnya karena faktor duniawi yang akan ia dapatkan atau karena wanita yang akan ia nikahi, maka ia dalam hijrahnya itu ia hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari-Muslim)

Dalam beberapa tulisan disebutkan ikhlas adalah melakukan sesuatu, baik perkataan maupun perbuatan ditujukan untuk Allah Ta’ala semata. Allah Swt. dalam al-Quran menyuruh kita ikhlas, seperti dalam firmanNya (yang artinya): “dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yunus [10] :105)

Ada juga perumpamaan dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah ngasih perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” 

Lalu, Ikhlaskah kita?

Nah ini dia yang merupakan bahan renungan yang menarik buat saya, semoga buat teman-teman juga. Ikhlaskah kita? Jika melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan? Materi misalnya? Atau prestise?

Saya yakin teman-teman punya jawabannya masing-masing ya..

Salah satu contoh ujian ikhlas, saat kita ingin dilihat oleh orang lain saat berbuat kebaikan. Toh perbuatan baik kan ya? Sejatinya memang kalau mengikuti nafsu, kita ingin sekali perbuatan kita itu dilihat orang lain, atau teman kita misalnya. Bahkan dengan cara yang sangat halus. 

Ada sedikit cuplikan yang berkaitan dengan ikhlas ini. Sebut saja Mawar (mainstream sekali ya saya hehehe), pernah suatu kali bepergian dengan seorang temannya, Melati (nah Mawar Melati semuanya indah..), jalan-jalan di kota. Singkatnya, siang itu Mawar dan Melati ini shalat dzuhur di mesjid yang mereka jumpai saat keliling pasar. Selesai shalat, Mawar duduk di teras mesjid untuk pasang kaos kaki sembari nungguin Melati yang masih di dalam mesjid. Tak lama kemudian Melati datang, setelah dipikir siap lanjut belanja, Mawar langsung bangkit berdiri. Tapi Melati duduk lagi di teras mesjid itu, membuka tasnya, membuka dompet dan mengambil uang (tapi ditutupin tangannya). Adegan itu terlihat oleh Mawar, karena mereka memang berdekatan dan akan melanjutkan belanja bersama. Menariknya Melati ini tidak bicara sedikitpun, pun saat ditanya Mawar “eh, ada yang ketinggalan kah?”

Aksi diamnya ini tentu membuat Mawar bertanya-tanya? Kenapa ya? Dia naroh infak kali ya? Nah di sinilah letak kehati-hatian kita teman-teman. Meskipun cara itu halus sekali, ada kemungkinan untuk kita tidak ikhlas. Mawar, atau orang-orang yang lain saat itu bisa saja memuji Melati, mengatakan: “wah, dermawan sekali ya”. Wallahu ‘Alam. Ini juga akan jadi pelajaran buat saya. Dan semoga buat kita semua.

Karena niat dan tujuan kita adalah bersedekah hendaknya tetaplah seperti itu. Akan menjadi peluang tidak ikhlas jika berubah jadi ingin dilihat orang. Maka hendaknya kita berusaha menjaga niat kita.

Ibadah dan Ikhlas

Dalam beribadah kita juga harus berada dalam zona keihklasan. Di hadapan Allah, ibadah kita akan bernilai sesuai dengan keikhlasan kita.

Ini ada cuplikan dari Buku karangan Abdullah Gymnastiar a.k.a Aa Gym

NIAT YANG IKHLAS
Setiap hamba Allah memiliki kemampuan dan kemauan dalam beribadah yang berbeda-beda. Sedangkan nilai ibadah seorang hamba di hadapan Allah ditunjukkan dengan ikhlasnya dalam beramal. Tanpa keikhlasan takkan berarti apa-apa amal seorang hamba. Tidak akan ada nilainya di sisi Allah jika tidak ikhlas dalam beramal.
Niat adalah pengikat amal. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi teramat sangat penting dan akan membuat hidup ini menjadi lebih mudah, indah dan jauh lebih bermakna.

TANDA-TANDA IKHLAS SEORANG HAMBA
1. Tidak mencari populartias dan tidak menonjolkan diri
2. Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian.
Pujian hanyalah sangkaan orang kepada kita, padahal kita sendiri yang tahu keadaan kita yang sebenarnya. Pujian adalah ujian Allah, hampir tidak pernah ada pujian yang sama persis dengan kondisi dan keadaan diri kita yang sebenarnya.
3. Tidak silau dan cinta jabatan
4. Tidak diperbudak imbalan dan balas budi
5. Tidak mudah kecewa.
Seorang hamba Allah yang ikhlas yakin benar bahwa apa yang diniatkan dengan baik lalu terjadi atau tidak yang dia niatkan semuanya pasti telah dilihat dan dinilai oleh Allah SWT. Misal ketika kita menjenguk teman sakit di RS luar kota, ternyata ketika kita sampai yang bersangkutan telah sembuh dan pulang. Tentu sjaa kita tidka harus kecewa karena niat dan perjalan termasuk ongkos dan keletihannya sudah mutlak tercata dan tidak akan disia-siakan Allah.
Seorang hamba yang ikhlas sadar bahwa manusia hanya memiliki kewajiban menyempurnakan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Perkara yang terbaik terjadi itu adalah urusan Allah.
Masalah kekecewaan yang wajar adalah jika berhubungan dengan urusan dengan Allah, kecewa ketika ternyata sholatnya tidak khusyu‘, ibadahnya tidak meningkat dsb.nya.
6. Tidak membedakan amal yang besar dan amal yang kecil
7. Tidak fanatis golongan
8. Ridha dan marahnya bukan karena perasaan pribadi
9. Ringan. Lahap dan nikmat dalam beramal
10. Tidak egis karena sellau mementingkan kepentingan bersama.
11. Tidak membeda-bedakan pergaulan.

Ikhlas dalam Hidup..

Menilik tulisan Aa Gym di atas, khususnya tentang tanda-tanda orang ikhlas. Saya tertarik untuk membahas poin 5. Tidak mudah kecewa.

Ayo coba kita ingat, sudah berapa kali kita merasa dikecewakan oleh orang lain, teman, keluarga, pasangan atau rekan kerja? Sudah berapa banyak sikap kita yang menunjukkan kekecewaan itu? 

Kali ini tentang pengalaman yang lain, yang menurut saya ada kaitannya dengan ikhlas. Ini terjadi pada diri saya sendiri. Dulu, saya sempat punya hubungan serius dengan sesorang, yang niatnya akan menuju pernikahan. Saya bahagia waktu itu. Ya sangat bahagia. Namun saya, tepatnya kami, hanya manusia biasa yang bisa membuat rencana dan Allah jualah yang Maha Kuasa, yang berhak membuat keputusan untuk hidup makhluknya, termasuk saya pastinya. Jika DIA berkehendak tidak ada yang bisa menghalangi. Kami tidak jadi menikah. Itu keputusannya.

Well, layaknya orang yang tidak mendapatkan apa yang diinginkan? Jawabannya kecewa. Betul. Dan itu ternyata hanya jika kita tidak ikhlas. Tidak bisa menerima kenyataan.

“Tapi kan saya ngga jadi menikah? Saya ingin nikah dengannya, lalu batal. Saya ikhlas, tapi saya sedih pasti, kecewa.” 

Sedih, adalah perasaan wajar yang dirasakan manusia jika tidak mendapat apa yang diinginkan. Apakah kita tidak boleh kecewa? Di sini jugalah perannya ikhlas. Tidak ada perasaan kecewa jika kita benar-benar ikhlas. Kita tidak lagi perlu bersedih atas kegagalan itu. 

Yang harus kita lakukan adalah meyakini bahwa keputusan terbaik hanya dari Allah, DIA pasti mengetahui segala yang terbaik dan cocok untuk kita, sementara kita tidak tahu apa-apa. Kita hanya perlu berusaha melakukan yang terbaik, berdoa agar Allah mengabulkan permintaan, kemudian bertawakal dalam keikhlasan.

Dan kemudian hari saya sadar, ternyata selama ini saya belum benar-benar ikhlas. Sehingga saya harus merasa kecewa dan sedih. :)

Dalam perjalanan hidup kita, pastinya banyak hal terjadi, yang enak ataupun gak enak. Seringkali kita juga harus berurusan dengan yang namanya masalah. Masalah bisa datang dari mana saja, seperti nikmat dan rezeki Allah yang juga darimana saja. Entah itu masalah kesehatan, pekerjaan, keuangan, keluarga, pendidikan, pernikahan, de el el. Menghadapi satu masalah mungkin tidak terlalu sulit, beda halnya jika kita mendapat masalah yang beruntun atau istilahnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Wah kalau begini rasanya hidup kita suram, emosi mulai gak stabil, badan meriang, mellow. Pokoknya enggak banget deh hehehe.

Obatnya? Belajar ikhlas :) 
Dengan ikhlas (meskipun baru belajar) inshaa Allah sedikit bisa menenangkan hati, berpikiran jernih, sehingga bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah kita dengan baik. Wallahu ‘Alam

Lalu akan muncul pernyataan seperti yang saya tulis di atas, ikhlas itu tidak segampang mengucapkannya. Betul. Tapi, jika kita tidak mulai belajar ikhlas, kapan kita akan benar-benar bisa ikhlas? So, dari sekarang yuk kita sama-sama belajar untuk ikhlas :)

And,  at the end… (saya juga masih dan terus belajar)
Menurut saya, ikhlas itu suatu pekerjaan berat namun dapat kita lakukan tanpa kita umumkan kesulitan dan kerelaan kita untuk melakukannya. Cmiiw :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar