Biasanya kalau pulang kerja tidak bareng suami, saya naik
kendaraan umum alias ngangkot. Lumayan lah ya tiga kali naik turun angkot.
Lumayan di ongkos lumayan di jarak juga. Ya kudu musti kan yaa, kalau masih
milih ngantor mah hehehe. Kalau pulang kerja sendirian, turun dari angkot
nyambung jalan kaki sekitar 5 menitan dari jalan raya ke rumah. Itu rute jalan
pintas lewat pintu samping pagar komplek. Biar cepet, meskipun lewat jalan
kecil. No problem lah ya, lha wong jalan kaki ini.
Skip lah curhatan tentang ngangkot ini ya. Lagi pengen
nulis tentang si “anak kecil”. Kucing yang sempat jadi “anak” kami di tiga
minggu terakhir. Biasanya, kalau lihat saya di ujung jalan,
si “anak kecil” ini akan lari-lari mengejar. Entah dari mana datangnya, karena
kalau siang tidak di rumah. Tidak ada orang buat jagain. Diikuti dua saudaranya
yang rada kalem, tidak pakai lari, jalan biasa aja. Saya langsung gendong sebentar,
sambil sibuk menenangkan mereka yang tak sabaran ingin segera masuk rumah. Seolah
proses membuka kunci pintu menambah rasa lapar mereka :D Adegan selanjutnya
adalah memberi makan mereka, sepiring bertiga aja, tapi dengan porsi besar
tentunya. Yaiyalah yaa kalau porsi kecil mana kenyaang. Kali aja seharian tidak
makan sama sekali. Ini sebenarnya masih bikin saya sedikit galau (eaaa).
Sedih sih. Karena saat siang hari harus meninggalkan mereka dan berusaha yakin mereka akan baik-baik saja di luar rumah. *lapairmata
Sedih sih. Karena saat siang hari harus meninggalkan mereka dan berusaha yakin mereka akan baik-baik saja di luar rumah. *lapairmata
Tapi malam ini tidak ada yang lari-lari, hanya ada dua
ekor kitten yang kalem itu nungguin di teras. Seketika saya merasakan sensasi
bergetar di hati, yailaah… Sedih! Yup. Sambil merengkuh 2 makhluk lucu yang
dengan polosnya melotot-lotot (lapar kali yaa), saya pangku mereka, duduk di
teras menghadap ke gundukan tanah kecil di samping kamar kami. Ya, gundukan
tanah itu kuburannya si “anak kecil”. Ini malam ketiga anak kecil tak menyambut
saya dan suami pulang kerja. Dua malam lalu karena pulang bareng suami,
kesedihan tidak begitu mencuat. Mungkin karena celetukan suami yang kadang
bikin suasana terasa lucu. Atau mungkin karena ada orang lain yang merasakan
kesedihan juga, jadi bagi-bagi ya, tidak semuanya saya borong :D
Anak Kecil sudah tiada. Sudah mati, meninggalkan dua saudaranya dan kami (saya dan suami) yang sudah mulai jatuh cinta dan sayang sama makhluk mungil itu. Kisah si Anak Kecil ini dimulai pada tanggal 6 Mei lalu. Saat sampai di rumah setelah pulang kerja sekitar jam 7 malam, karena sebelumnya mampir makan dulu, ada dua ekor kitten yang lucu sekali di depan rumah. Satu berwarna putih dengan sedikit warna hitam, dan yang satu hitam polos. Saya dan suami yang sebenarnya memang suka sama kucing (tapi belum pernah miara kucing bersama) langsung ajak main mereka. Seperti kitten pada umumnya, mereka lucu sekali. Mata, suara dan gerakan mereka solah-olah mengerti dengan obrolan kami.
Singkat cerita, mereka kami ajak masuk ke dalam rumah dengan maksud ngasih makan. Kemudian baru ingat kalau kami tidak punya makanan yang bisa dimakan oleh kitten. Akhirnya kami memutuskan untuk kasih makan sosis yang merknya terkenal ituuh yang suka di iklan-iklan atlet. Ooppss.. Jadilah suami jalan ke warung buat beli sosis. Dan Alhamdulillah mereka suka. Baiklah, sementara makan sosis dulu ya babies..
Karena kami belum tahu kucing lucu ini asalnya dari mana, ada yang punya atau tidak, jadi kami belum mengklaim mereka. Dan malam itu duo kitten nginap di rumah. Pagi hari esoknya, setelah sarapan kami terpaksa tinggalkan mereka di luar, di teras rumah tepatnya. Sudah disediakan sosis dan air minum untuk mereka makan siang.
Amazing! Saat pulang kerja, kami melihat pemandangan yang sangat menyenangkan dan lucu. Si Anak Kecil lari-lari menyambut kami disusul si Hitam. Bahagiaa banget rasanya saat pulang kerja ada yang lari-larian nyambut kita ya. (Kucing aja yang nyambut bahagia, apalagi anak ya hehehe. Skip skip skip)
Ritual kasih makan, minum dan ngobrol berlanjut seperti malam sebelumnya. Skip lagi.
Di malam ketiga, kawanan makhluk imut, lucu nan mungil itu bertambah satu! Yes, sekarang ada 3, horee...
Setelah tiga hari dengan keceriaan dari trio ini, kami berniat mengadopsi mereka. Karena kami juga sedikit heran, jika mereka ada yang punya, kenapa tidak ada yang cari? Akhirnya kami tanya tetangga, tapi tidak ada yang mengaku itu kucing mereka. Kalau menurut suami sih, trio ini kemungkinan anak dari si ibu kucing yang ada di rumah tetangga yang berjarak tiga rumah dari rumah kami. Karena suami saya sebelumnya pernah melihat satu ibu kucing dengan tiga anaknya yang baru lahir di teras rumah tersebut. Tapi si ibu kucing juga sudah tidak pernah terlihat lagi. Ya sudah, husnudzon saja ya :).
Bismillah, akhirnya kami adopsi lah tiga anak mungil ini. Dan kami kasih nama mereka: yang warnanya putih Witty, yang hitam Beki, yang putih totol-totol hitam Spotty (duuuh gak kreatif amat yak kasih namanya). Tapii itu cuma nama di ataskertas omongan. Karena pada kenyataannya panggilan mereka berubah jadi: Anak Kecil (karena tingkahnya yang seperti anak kecil, ini panggilan dari suami saya), Item dan Cemong :D.
Oke, sekarang kami punya tiga "anak kecil" di rumah. Makanan dan minum mereka selalu disiapkan terlebih dahulu, sebelum kami berangkat kerja. Hanya saja ada bagian yang membuat saya sedih. Mereka harus ditinggal di luar rumah selama kami ngantor :(.
Karena di rumah tidak ada orang lain, selain kami berdua, saya dan suami (pengumuman, penting hehehe). Hari berlalu, dan mereka masih setia pada kami. Meskipun tiap pagi hari harus ditinggalkan di teras, entah kemana mereka siangnya, dan selalu menyambut kami saat pulang kerja. Bahkan saat kami harus bermalam di luar kota, waktu itu ada retret dari kantor saya ke Sukabumi, ditinggal dari Jumat pagi dan kami pulang Sabtu malam, mereka masih setia. Sebenarnya saya galau juga dengan komitmen mengadopsi mereka sementara siang harus meninggalkan mereka (masih mikirin solusi terbaiknya).
Tiga anak kecil ini makin lucu dan pintar, dan seolah sudah mengerti nama mereka masing-masing jika dipanggil. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri bagi kami di tengah-tengah suasana yang biasanya cuma bisa usilin satu orang. Ya gitu, kalau gak saya ngusilin suami, suami yang ngusilin saya :).
Hampir tiga minggu trio kitten ini menemani kami. Sampai suatu hari, saya dan suami sepakat memandikan si Anak Kecil, karena badannya kucel setelah main di luar rumah, entah main apa ya. Saya ingat di hari Minggu suami saya mandikan si Anak Kecil, yang dua lagi tidak dimandikan karena badannya masih bersih. Setelah badannya dikeringkan, si Anak Kecil dikasih makan bareng saudara-saudaranya. Siang harinya si Anak Kecil main, maghrib baru pulang. Lesu! Tidak mau makan, minum sedikit. Suami saya coba kasih makan sosis, karena sejak kami adopsi mereka sudah makan makanan khusus anak kucing. Dan tetap tidak nafsu, hanya makan sedikit sekali.
Kami bingung. Karena belum pernah benar-benar merawat kucing sendiri. Dulu saya pernah punya kucing, tapi dibantu ibu merawatnya. Setelah kami cek badannya, ternyata ada goresan dekat matanya. Seperti terkena cakaran. Kami berasumsi, kemungkinan akibat berkelahi sama kucing lain. Akhirnya kami kasih minum lagi, dengan maksud biar ada tenaga. Si Anak Kecil kami baringkan di tempat tidurnya, dipijit sebentar, kemudian diselimuti, supaya dia bisa nyaman dan tertidur. Karena malam itu kami kedatangan adik ipar dan tunangannya yang mau berkonsultasi tentang perintilan rencana pernikahan mereka, kami sedikit lupa akan si Witty yang lagi lesu.
Pagi hari, ternyata si Anak Kecil masih lemah, tidak mau makan, hanya minum saja. Saya makin khawatir. "Gak apa-apa. paling dia cuma lemes. Mudahan nanti seger lagi. Kita sediakan aja makanan dan minumnya." Kata suami saya berusaha membuat saya tenang. Terpaksa (sekali lagi, galau) kami meninggalkan Anak Kecil di tempat tidurnya yang ditaruh di atas rak di teras, dijagain dua saudaranya. Saya selimuti dia, biar gak kedinginan, saya usap-usap kepala, tengkuk dan kakinya sebelum berangkat kerja. Dia tidak bersuara. Tidak seperti biasanya yang sangat lincah. Yang suka usil, yang suka bikin gemes korban usilnya, saya dan suami ataupun dua saudaranya. Dia hanya memandang saya dengan mata sayunya.
"Nanti makan ya sayang, minum. Ditinggal lagi ya. Baik-baik di rumah." Duh, waktu ngomong gini saya benar-benar gak tega ninggalinnya. Apa mau dikata, saya harus berangkat ke kantor, hiks hiks..
Selama di kantor saya sering teringat Anak Kecil. Gimana ya kondisinya. Saya putuskan, sepulang dari kantor ajak suami bawa Witty ke dokter. Malamnya, sesampai di depan rumah saya langsung tercekat melihat kondisi si Anak Kecil. Dia terjatuh dari tempatnya tadi pagi! Saya langsung menghambur, menggendongnya, mengusapnya, badannya ringan sekali. Ya ampun. Seketika saya merasa bersalah. Dia pasti menderita seharian. Makanan dan air minum memang berkurang, tapi bisa saja dua saudaranya yang makan. Witty juga tidak bersuara.
Kami langsung membawa Witty naik motor ke pet shop dekat rumah yang menurut suami ada kliniknya. Kami meninggalkan dua saudara Witty yang sepertinya juga kebingungan, mereka juga belum mau menyentuh makanan yang disiapkan suami untuk makan malam mereka.
Karena saya belum beli keranjang khusus kucing, saya gendong saja Witty layaknya anak bayi. Menggunakan pashmina, saya bungkus dia dalam dekapan saya. Sepanjang perjalanan ke klinik tak henti-hentinya kami mengajak si anak kecil ini berbicara, kami ingin dia tahu bahwa kami sayang padanya, kami ingin dia sembuh. Tiba-tiba di perjalanan Witty menegakkan kepalanya, seolah-olah dia ingin melihat keramaian jalanan, saya sempat besar hati melihatnya. "Ayo sayang lihat banyak mobil, motor. Nanti kalo kamu sembuh kita jalan-jalan ya." Begitu kata saya berusaha menghiburnya, atau menghibur kami berdua. Dan takjub, dia merespon saya! Dia mengeong beberapa kali. Alhamdulillah senangnya :).
Sesampainya di pet shop, ternyata di sana tidak ada dokter! Memang di plang nama XXXX Pet shop & Clinic, tapi ternyata yang ini cabangnya saja yang hanya berfungsi sebagai pet shop. Kliniknya ada di tempat lain, dan dokternya hanya sampai jam 8 malam, sementara saat itu sudah jam 8 lewat. Si Mas yang di pet shop menyarankan kami ke Margonda. Sementara saya dan dibantu si Mas cari info tentang klinik yang masih buka, suami pulang ambil helm, karena tadi kami tidak menggunakan helm (please, jangan tiru ini yaa..) karena buru-buru (alasan!).
Saya dan si Mas pet shop itu, mencoba menelpon beberapa no telpon klinik yang kami dapat dari hasil googling. Nihil. Tidak ada klinik yang menjawab. Mas pet shop tidak menyerah, mencoba menelpon temannya dan dijawab tapi lagi-lagi kami harus kecewa. dokternya sudah pulang. Ya sudah, berdasarkan saran si Mas, kami berniat bawa si anak kecil ke klinik di Margonda, atau kalo nanti dokternya sudah pulang, langsung ke RS Hewan di Ragunan. Saya masih berharap penuh Witty bisa tertolong, meskipun Mas pet shop bilang, jika kondisinya sudah seperti itu, biasanya tidak tertolong. Ya Allah, sembuhkan Witty.
Saya ambil lagi Witty dari keranjang, sebelumnya saya langsung beli keranjang khusus kitten dan menaruhnya di situ saat saya mencoba menelpon klinik. Mendekap Witty yang sudah sangat lemah, meskipun cemas dan sedih saya berusaha ngajak ngobrol dan seketika saya berhenti menggumam saat saya lihat perut Witty tidak lagi naik-turun. Tiba-tiba badan Witty kaku, tidak bergerak sama sekali. Ya Allah, apakah nafasnya sudah hilang? Witty sudah mati? Otomatis saya tidak mau mempercayai jawaban yang sangat mungkin, Witty mati!
Dua orang Mas-mas di pet shop langsung ngecek Witty dan mereka bilang: "Sudah nggak ada ini Kak, sudah mati kucingnya." Deg. Witty mati di gendongan saya. Tenggorokan saya tercekat, saya taruh lagi di keranjang, saya minta Mas-mas itu cek sekali lagi. Dan jawaban mereka masih sama, si Anak Kecil sudah "tidak ada". Saya tidak bisa menahan air mata. Cengeng? Iya, mungkin. Tapi saya sudah menyayangi Witty dan saya menyesal karena terlambat membawanya ke dokter. Selang beberapa menit kemudian suami saya datang, masih dengan semangat untuk membawa Witty ke klinik. Dan harus terima kalo Witty sudah pergi. Suami saya sedih! Saya jarang liat dia bersedih seperti itu. Biasanya dia bersedih jika berkaitan tentang diri saya. Kali ini dia sedih, ya karena dia juga sangat sayang pada Witty, bahkan selalu memanggil Witty dengan sebutan "anak kecil anak kecil".
Apa dikata, jodoh kami dengan Witty hanya sampai di situ. Witty yang sudah kami rawat (memang belum maksimal) dan sayangi layaknya anak sendiri, kini sudah pergi. Dengan langkah gontai kami bawa Witty pulang, setelah mengucapkan terima kasih ke Mas-mas pet shop yang sudah direpotin. Si Mas itu juga berpesan, kalo anak kucing kelihatan lesu langsung dibawa kelinik, periksakan ke dokter. Karena masih kecil, rentan terkena virus dan daya tahan tubuhnya masih lemah, begitu katanya. Dan itu menambah rasa bersalah kami. Hiks..
Sesampai di rumah, saya sempatkan foto-in Witty sebagai kenang-kenangan. Karena kemarin-kemarin belum banyak fotonya. Saya perlihatkan tubuh Witty yang kaku ke saudara-saudaranya, Beki dan Spotty, saya kasih tau mereka kalo Witty sudah mati. Ya, mungkin mereka tidak tahu bahasa saya, tapi saya yakin mereka bisa mengerti, semoga. Kami pakaikan Witty baju, menggunakan kaus putih suami saya, lalu saya bungkus lagi badannya dengan pashmina. Kami sepakat mengubur Witty di depan rumah, di samping teras dan kamar kami, supaya kalau kangen Witty bisa lihat kuburannya :) (mellow semellow melownya iniih).
Proses penguburan Witty disaksikan juga oleh si Item dan Cemong, mereka sama tertegunnya seperti saya. Sama halnya seperti kita manusia, saya yakin kucing juga mengerti tentang kematian. Saya yakin mereka mengerti bahwa Witty si Anak Kecil tidak lagi dapat bermain bersama mereka. Tidak ada lagi si Anak Kecil yang senang iseng, menjahili dua saudaranya yang sedang berbaring santai atau bahkan sedang tidur. Witty yang suka toel-toel kaki saudara-saudaranya yang sedang anteng.
Melihat Witty dikubur membuat saya sempat dilanda penyesalan. Karena kelalaian kami, tidak segera memeriksakannya ke dokter saat dia mulai lesu. Karena kelalaian kami meninggalkan Witty di rumah seharian saat dia ternyata sakit parah. Karena ketidaktahuan kami. Kenangan bersama Witty selama tiga minggu belakangan menyeruak di pikiran saya, hingga membuat pelupuk mata saya basah (sediiiih bener ini). Saat dia ngotot menjangkau mukena saya ketika shalat. Saat dia kekurangan makanan dan suami sedang tidak di rumah, memaksa saya harus jalan ke warung (biasanya gak pernah ke warung itu, selalu suami, hikss) untuk beli sosis dengan diikuti olehnya yang kejar-kejaran bersama Beki dan Spotty. Witty yang suka melompat dari kasur ke pundak suami saat sujud. Witty yang selalu menggemaskan kami.
Witty sekarang memang sudah dikubur, memang sudah tidak bermain bersama kami dan dua saudaranya. Tapi Witty tetap menjadi kenangan indah bagi kami.
Witty sayang, terima kasih atas tiga minggu waktumu bersama kami. Tiga minggu waktumu yang memberikan keceriaan di rumah ini. Tiga minggu waktumu yang mengajarkan kami tentang belajar bersabar (mengurusi kalian layaknya bayi-bayi kecil). Tiga minggu waktumu yang mengajarkan kami tentang kepedulian kepada sesama makhluk Allah SWT.
Insha Allah.. kami akan merawat saudara-saudaramu, Beki Item dan Spotty Cemong, dengan kasih sayang kami sepenuhnya. Dengan kepedulian kami dan berjanji tidak akan lali lagi dengan lebih banyak belajar tentang kalian para kucing lucu :)
Selamat jalan Witty si Anak Kecil ku sayang.. <3
Anak Kecil sudah tiada. Sudah mati, meninggalkan dua saudaranya dan kami (saya dan suami) yang sudah mulai jatuh cinta dan sayang sama makhluk mungil itu. Kisah si Anak Kecil ini dimulai pada tanggal 6 Mei lalu. Saat sampai di rumah setelah pulang kerja sekitar jam 7 malam, karena sebelumnya mampir makan dulu, ada dua ekor kitten yang lucu sekali di depan rumah. Satu berwarna putih dengan sedikit warna hitam, dan yang satu hitam polos. Saya dan suami yang sebenarnya memang suka sama kucing (tapi belum pernah miara kucing bersama) langsung ajak main mereka. Seperti kitten pada umumnya, mereka lucu sekali. Mata, suara dan gerakan mereka solah-olah mengerti dengan obrolan kami.
Singkat cerita, mereka kami ajak masuk ke dalam rumah dengan maksud ngasih makan. Kemudian baru ingat kalau kami tidak punya makanan yang bisa dimakan oleh kitten. Akhirnya kami memutuskan untuk kasih makan sosis yang merknya terkenal ituuh yang suka di iklan-iklan atlet. Ooppss.. Jadilah suami jalan ke warung buat beli sosis. Dan Alhamdulillah mereka suka. Baiklah, sementara makan sosis dulu ya babies..
Karena kami belum tahu kucing lucu ini asalnya dari mana, ada yang punya atau tidak, jadi kami belum mengklaim mereka. Dan malam itu duo kitten nginap di rumah. Pagi hari esoknya, setelah sarapan kami terpaksa tinggalkan mereka di luar, di teras rumah tepatnya. Sudah disediakan sosis dan air minum untuk mereka makan siang.
Amazing! Saat pulang kerja, kami melihat pemandangan yang sangat menyenangkan dan lucu. Si Anak Kecil lari-lari menyambut kami disusul si Hitam. Bahagiaa banget rasanya saat pulang kerja ada yang lari-larian nyambut kita ya. (Kucing aja yang nyambut bahagia, apalagi anak ya hehehe. Skip skip skip)
Ritual kasih makan, minum dan ngobrol berlanjut seperti malam sebelumnya. Skip lagi.
Di malam ketiga, kawanan makhluk imut, lucu nan mungil itu bertambah satu! Yes, sekarang ada 3, horee...
Setelah tiga hari dengan keceriaan dari trio ini, kami berniat mengadopsi mereka. Karena kami juga sedikit heran, jika mereka ada yang punya, kenapa tidak ada yang cari? Akhirnya kami tanya tetangga, tapi tidak ada yang mengaku itu kucing mereka. Kalau menurut suami sih, trio ini kemungkinan anak dari si ibu kucing yang ada di rumah tetangga yang berjarak tiga rumah dari rumah kami. Karena suami saya sebelumnya pernah melihat satu ibu kucing dengan tiga anaknya yang baru lahir di teras rumah tersebut. Tapi si ibu kucing juga sudah tidak pernah terlihat lagi. Ya sudah, husnudzon saja ya :).
Bismillah, akhirnya kami adopsi lah tiga anak mungil ini. Dan kami kasih nama mereka: yang warnanya putih Witty, yang hitam Beki, yang putih totol-totol hitam Spotty (duuuh gak kreatif amat yak kasih namanya). Tapii itu cuma nama di atas
Oke, sekarang kami punya tiga "anak kecil" di rumah. Makanan dan minum mereka selalu disiapkan terlebih dahulu, sebelum kami berangkat kerja. Hanya saja ada bagian yang membuat saya sedih. Mereka harus ditinggal di luar rumah selama kami ngantor :(.
Karena di rumah tidak ada orang lain, selain kami berdua, saya dan suami (pengumuman, penting hehehe). Hari berlalu, dan mereka masih setia pada kami. Meskipun tiap pagi hari harus ditinggalkan di teras, entah kemana mereka siangnya, dan selalu menyambut kami saat pulang kerja. Bahkan saat kami harus bermalam di luar kota, waktu itu ada retret dari kantor saya ke Sukabumi, ditinggal dari Jumat pagi dan kami pulang Sabtu malam, mereka masih setia. Sebenarnya saya galau juga dengan komitmen mengadopsi mereka sementara siang harus meninggalkan mereka (masih mikirin solusi terbaiknya).
Tiga anak kecil ini makin lucu dan pintar, dan seolah sudah mengerti nama mereka masing-masing jika dipanggil. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri bagi kami di tengah-tengah suasana yang biasanya cuma bisa usilin satu orang. Ya gitu, kalau gak saya ngusilin suami, suami yang ngusilin saya :).
Hampir tiga minggu trio kitten ini menemani kami. Sampai suatu hari, saya dan suami sepakat memandikan si Anak Kecil, karena badannya kucel setelah main di luar rumah, entah main apa ya. Saya ingat di hari Minggu suami saya mandikan si Anak Kecil, yang dua lagi tidak dimandikan karena badannya masih bersih. Setelah badannya dikeringkan, si Anak Kecil dikasih makan bareng saudara-saudaranya. Siang harinya si Anak Kecil main, maghrib baru pulang. Lesu! Tidak mau makan, minum sedikit. Suami saya coba kasih makan sosis, karena sejak kami adopsi mereka sudah makan makanan khusus anak kucing. Dan tetap tidak nafsu, hanya makan sedikit sekali.
Kami bingung. Karena belum pernah benar-benar merawat kucing sendiri. Dulu saya pernah punya kucing, tapi dibantu ibu merawatnya. Setelah kami cek badannya, ternyata ada goresan dekat matanya. Seperti terkena cakaran. Kami berasumsi, kemungkinan akibat berkelahi sama kucing lain. Akhirnya kami kasih minum lagi, dengan maksud biar ada tenaga. Si Anak Kecil kami baringkan di tempat tidurnya, dipijit sebentar, kemudian diselimuti, supaya dia bisa nyaman dan tertidur. Karena malam itu kami kedatangan adik ipar dan tunangannya yang mau berkonsultasi tentang perintilan rencana pernikahan mereka, kami sedikit lupa akan si Witty yang lagi lesu.
Pagi hari, ternyata si Anak Kecil masih lemah, tidak mau makan, hanya minum saja. Saya makin khawatir. "Gak apa-apa. paling dia cuma lemes. Mudahan nanti seger lagi. Kita sediakan aja makanan dan minumnya." Kata suami saya berusaha membuat saya tenang. Terpaksa (sekali lagi, galau) kami meninggalkan Anak Kecil di tempat tidurnya yang ditaruh di atas rak di teras, dijagain dua saudaranya. Saya selimuti dia, biar gak kedinginan, saya usap-usap kepala, tengkuk dan kakinya sebelum berangkat kerja. Dia tidak bersuara. Tidak seperti biasanya yang sangat lincah. Yang suka usil, yang suka bikin gemes korban usilnya, saya dan suami ataupun dua saudaranya. Dia hanya memandang saya dengan mata sayunya.
"Nanti makan ya sayang, minum. Ditinggal lagi ya. Baik-baik di rumah." Duh, waktu ngomong gini saya benar-benar gak tega ninggalinnya. Apa mau dikata, saya harus berangkat ke kantor, hiks hiks..
Selama di kantor saya sering teringat Anak Kecil. Gimana ya kondisinya. Saya putuskan, sepulang dari kantor ajak suami bawa Witty ke dokter. Malamnya, sesampai di depan rumah saya langsung tercekat melihat kondisi si Anak Kecil. Dia terjatuh dari tempatnya tadi pagi! Saya langsung menghambur, menggendongnya, mengusapnya, badannya ringan sekali. Ya ampun. Seketika saya merasa bersalah. Dia pasti menderita seharian. Makanan dan air minum memang berkurang, tapi bisa saja dua saudaranya yang makan. Witty juga tidak bersuara.
Kami langsung membawa Witty naik motor ke pet shop dekat rumah yang menurut suami ada kliniknya. Kami meninggalkan dua saudara Witty yang sepertinya juga kebingungan, mereka juga belum mau menyentuh makanan yang disiapkan suami untuk makan malam mereka.
Karena saya belum beli keranjang khusus kucing, saya gendong saja Witty layaknya anak bayi. Menggunakan pashmina, saya bungkus dia dalam dekapan saya. Sepanjang perjalanan ke klinik tak henti-hentinya kami mengajak si anak kecil ini berbicara, kami ingin dia tahu bahwa kami sayang padanya, kami ingin dia sembuh. Tiba-tiba di perjalanan Witty menegakkan kepalanya, seolah-olah dia ingin melihat keramaian jalanan, saya sempat besar hati melihatnya. "Ayo sayang lihat banyak mobil, motor. Nanti kalo kamu sembuh kita jalan-jalan ya." Begitu kata saya berusaha menghiburnya, atau menghibur kami berdua. Dan takjub, dia merespon saya! Dia mengeong beberapa kali. Alhamdulillah senangnya :).
Sesampainya di pet shop, ternyata di sana tidak ada dokter! Memang di plang nama XXXX Pet shop & Clinic, tapi ternyata yang ini cabangnya saja yang hanya berfungsi sebagai pet shop. Kliniknya ada di tempat lain, dan dokternya hanya sampai jam 8 malam, sementara saat itu sudah jam 8 lewat. Si Mas yang di pet shop menyarankan kami ke Margonda. Sementara saya dan dibantu si Mas cari info tentang klinik yang masih buka, suami pulang ambil helm, karena tadi kami tidak menggunakan helm (please, jangan tiru ini yaa..) karena buru-buru (alasan!).
Saya dan si Mas pet shop itu, mencoba menelpon beberapa no telpon klinik yang kami dapat dari hasil googling. Nihil. Tidak ada klinik yang menjawab. Mas pet shop tidak menyerah, mencoba menelpon temannya dan dijawab tapi lagi-lagi kami harus kecewa. dokternya sudah pulang. Ya sudah, berdasarkan saran si Mas, kami berniat bawa si anak kecil ke klinik di Margonda, atau kalo nanti dokternya sudah pulang, langsung ke RS Hewan di Ragunan. Saya masih berharap penuh Witty bisa tertolong, meskipun Mas pet shop bilang, jika kondisinya sudah seperti itu, biasanya tidak tertolong. Ya Allah, sembuhkan Witty.
Saya ambil lagi Witty dari keranjang, sebelumnya saya langsung beli keranjang khusus kitten dan menaruhnya di situ saat saya mencoba menelpon klinik. Mendekap Witty yang sudah sangat lemah, meskipun cemas dan sedih saya berusaha ngajak ngobrol dan seketika saya berhenti menggumam saat saya lihat perut Witty tidak lagi naik-turun. Tiba-tiba badan Witty kaku, tidak bergerak sama sekali. Ya Allah, apakah nafasnya sudah hilang? Witty sudah mati? Otomatis saya tidak mau mempercayai jawaban yang sangat mungkin, Witty mati!
Dua orang Mas-mas di pet shop langsung ngecek Witty dan mereka bilang: "Sudah nggak ada ini Kak, sudah mati kucingnya." Deg. Witty mati di gendongan saya. Tenggorokan saya tercekat, saya taruh lagi di keranjang, saya minta Mas-mas itu cek sekali lagi. Dan jawaban mereka masih sama, si Anak Kecil sudah "tidak ada". Saya tidak bisa menahan air mata. Cengeng? Iya, mungkin. Tapi saya sudah menyayangi Witty dan saya menyesal karena terlambat membawanya ke dokter. Selang beberapa menit kemudian suami saya datang, masih dengan semangat untuk membawa Witty ke klinik. Dan harus terima kalo Witty sudah pergi. Suami saya sedih! Saya jarang liat dia bersedih seperti itu. Biasanya dia bersedih jika berkaitan tentang diri saya. Kali ini dia sedih, ya karena dia juga sangat sayang pada Witty, bahkan selalu memanggil Witty dengan sebutan "anak kecil anak kecil".
Apa dikata, jodoh kami dengan Witty hanya sampai di situ. Witty yang sudah kami rawat (memang belum maksimal) dan sayangi layaknya anak sendiri, kini sudah pergi. Dengan langkah gontai kami bawa Witty pulang, setelah mengucapkan terima kasih ke Mas-mas pet shop yang sudah direpotin. Si Mas itu juga berpesan, kalo anak kucing kelihatan lesu langsung dibawa kelinik, periksakan ke dokter. Karena masih kecil, rentan terkena virus dan daya tahan tubuhnya masih lemah, begitu katanya. Dan itu menambah rasa bersalah kami. Hiks..
Sesampai di rumah, saya sempatkan foto-in Witty sebagai kenang-kenangan. Karena kemarin-kemarin belum banyak fotonya. Saya perlihatkan tubuh Witty yang kaku ke saudara-saudaranya, Beki dan Spotty, saya kasih tau mereka kalo Witty sudah mati. Ya, mungkin mereka tidak tahu bahasa saya, tapi saya yakin mereka bisa mengerti, semoga. Kami pakaikan Witty baju, menggunakan kaus putih suami saya, lalu saya bungkus lagi badannya dengan pashmina. Kami sepakat mengubur Witty di depan rumah, di samping teras dan kamar kami, supaya kalau kangen Witty bisa lihat kuburannya :) (mellow semellow melownya iniih).
Proses penguburan Witty disaksikan juga oleh si Item dan Cemong, mereka sama tertegunnya seperti saya. Sama halnya seperti kita manusia, saya yakin kucing juga mengerti tentang kematian. Saya yakin mereka mengerti bahwa Witty si Anak Kecil tidak lagi dapat bermain bersama mereka. Tidak ada lagi si Anak Kecil yang senang iseng, menjahili dua saudaranya yang sedang berbaring santai atau bahkan sedang tidur. Witty yang suka toel-toel kaki saudara-saudaranya yang sedang anteng.
Melihat Witty dikubur membuat saya sempat dilanda penyesalan. Karena kelalaian kami, tidak segera memeriksakannya ke dokter saat dia mulai lesu. Karena kelalaian kami meninggalkan Witty di rumah seharian saat dia ternyata sakit parah. Karena ketidaktahuan kami. Kenangan bersama Witty selama tiga minggu belakangan menyeruak di pikiran saya, hingga membuat pelupuk mata saya basah (sediiiih bener ini). Saat dia ngotot menjangkau mukena saya ketika shalat. Saat dia kekurangan makanan dan suami sedang tidak di rumah, memaksa saya harus jalan ke warung (biasanya gak pernah ke warung itu, selalu suami, hikss) untuk beli sosis dengan diikuti olehnya yang kejar-kejaran bersama Beki dan Spotty. Witty yang suka melompat dari kasur ke pundak suami saat sujud. Witty yang selalu menggemaskan kami.
Witty sekarang memang sudah dikubur, memang sudah tidak bermain bersama kami dan dua saudaranya. Tapi Witty tetap menjadi kenangan indah bagi kami.
Witty sayang, terima kasih atas tiga minggu waktumu bersama kami. Tiga minggu waktumu yang memberikan keceriaan di rumah ini. Tiga minggu waktumu yang mengajarkan kami tentang belajar bersabar (mengurusi kalian layaknya bayi-bayi kecil). Tiga minggu waktumu yang mengajarkan kami tentang kepedulian kepada sesama makhluk Allah SWT.
Insha Allah.. kami akan merawat saudara-saudaramu, Beki Item dan Spotty Cemong, dengan kasih sayang kami sepenuhnya. Dengan kepedulian kami dan berjanji tidak akan lali lagi dengan lebih banyak belajar tentang kalian para kucing lucu :)
Selamat jalan Witty si Anak Kecil ku sayang.. <3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar