Kamis, 06 Februari 2014

Waktu kita..



Foto: Fitri Yanti, Lokasi: Pantai Teleng Ria, Pacitan



Pagi ini, sesampainya di kantor, taruh tas dan duduk lalu buka gadget untuk cek sosmed. Inii kegiatan penting gak penting ya, tapi butuh juga. Seperti biasa, baca-baca update-an status teman-teman, sesekali balas message di WA dan BBM. 

Nah, tiba-tiba saya terpaku baca postingan di wall salah satu teman SMA saya, Berliana Caisaria: “Innalillahi Wainnailaihi Rooji'un. Turut berduka cita atas wafatnya Berliana Caisaria (Nana). S'moga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Dan yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran ... Amiiinnnn”

Ya Allah, seketika badan saya lemas dan mata langsung berkaca-kaca. Berbagai pertanyaan tak terjawab mengalir dipikiran saya. Nana, secepat itukah dear? Kamu masih begitu muda. Belum sempat kita bermain bersama lagi sejak belasan tahun lalu. Kenapa? 

Pertanyaan terakhir itu yang membuat saya tidak lagi berkaca-kaca, tapi menangis. Kenapa? Karena waktu yang ditentukan Sang Khalik sudah datang. Waktu Nana untuk kembali kepadaNya, Allah SWT. Dapatkah kita menolak, menghindar, atau mengulur waktu itu? Jawabannya pasti TIDAK.
Saat menulis ini, tenggorokan saya tercekat, bukan hanya sedih mendengar berita kepergian seorang teman tapi juga menengok ke dalam diri sendiri. Apa yang saya punya? Darimana saya tahu saya sudah punya bekal untuk kehidupan yang abadi itu? Kemana saja saya jalankan waktu yang dipunya di dunia ini? Kapan waktu itu tiba? 

Kapan waktu kita?
Waktu kita..

Jika dia datang, sudah tidak lagi ada pilihan. Dia bisa datang kapan saja, dimana saja, apapun kondisi kita. Waktu itu sudah tercatat di Lauhul Mahfuz.

“Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah”, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan “Ini dari engkau Muhammad.” Katakanlah, “semua datang dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikitpun)?” (QS. An-Nisa’ (4): 78)


Kapan waktu kita? Kemana saja kita selama masih ada waktu? Apa yang kita perbuat? Semoga berita yang saya dapat hari ini menjadi alarm kembali untuk kita semua. Renungkan kembali dan bersiaplah dalam menunggu.
Waktu kita…

Selamat jalan teman, semoga mendapat rahmah dan tempat yang mulia disisiNya. Ya Allah, ampunilah Nana, terimalah dengan kasih sayangMU Ya Rabb.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar