Sudaah lama sekali ini tulisan hanya jadi penghuni laptop dan usb, hiks.. Malasnya saya kumat lagi. Haduh, bukan untuk ditiru yaaa. Mari kita rajin kembali. Semangattt.
Oke, simak cerita singkat saya berikut:
Orang-orang tua kita zaman dulu itu bikin pepatah memang ada tujuan. Atau mungkin malah mereka sudah mengalami atau merasakan “cerita” di balik si pepatah itu. Dan dengan senang hatinya mempopulerkan pengalamannya lewat sebait kata-kata yang disebut pepatah. Supaya kita – kita di zaman ini tidak lagi ikut merasakan pengalaman mereka (kalo pait) atau bisa menghindari dan mempersiapkan diri. Dan ini tentunya baik untuk kita.
Pernah dengar dong ya pepatah yang mengatakan: Lebih baik mencegah daripada mengobati. Yakin deh! Kalo gak pernah, umm…pepatah ini terkenal banget lho, atau bisa kita cek aja via mbah gugel deh hehehe
Ya, saya yakin hampir seluruh penduduk Indonesia ini pernah dengar. Minimal yang emaknya, bapaknya, mertuanya, neneknya, kakeknya, temannya, sahabatnya atau siapanya lah, yang cerewet pernah mengucapkan wejangan ini. Iya kaan? *iya aja deh yaa
Lalu apa hubungannya si pepatah dengan tulisan ini? Ini pelajaran Bahasa Indonesia?. Tidak. Dan kita bukan sedang belajar pepatah ya hehehe. Di tulisan ini saya menceritakan sekelumit alasan mengapa saya menjalankan pola makan yang dikenal dengan nama Food Combining.
Jadi gini, awal tahun 2015 lalu saya sering merasa demam tiba-tiba. Kecapaian, keanginan atau kehujanan sedikit saja bisa membuat saya demam berhari-hari. Nah, pada suatu hari (ciee…) saya demam dan merasakan sakit yang lumayan hebat di perut bagian kanan. Hari pertama sampai ketiga saya masih cuek. Di hari keempat saya mulai risau dan cerita ke suami. Sebagai suami yang sayang istri (uhuk uhuk..) beliau langsung heboh dong dan ngajak periksa ke dokter dengan kalimat sakti “takutnya kenapa-napa.” Emang kenapa-napa kali Pak, lha wong sudah bilang sakit. Dan sebagai istri yang keras kepala yang malas ke dokter saya tetap keukeuh menolak dengan kalimat sakti juga “ntar aja, kalau sudah 10 hari masih sakit baru ke dokter.” Perdebatanpun dimenangkan sang istri ;)
Sepuluh hari berlalu dan ternyata perut saya masih sakit! Walaupun sudah tidak demam panas. Sesuai janji saya (harus ditepati yaa) pulang kerja malamnya diantar suami mengunjungi dokter spesialis internis di salah satu Rumah Sakit di Depok. Saat konsultasi, setelah memeriksa dan tanya jawab, Pak Dokter menyampaikan bahwa beliau belum bisa memastikan apakah masalah lambung atau ginjal. Untuk memastikan dan menegakkan diagnosis harus dilakukan USG. Dan beliau memberikan pilihan untuk langsung di USG di sana atau di klinik prakteknya yang lain. Pilihan ini diberikan karena biaya USG di RS jauh lebih mahal daripada di klinik. Seingat saya bedanya sekitar Rp. 450.000. Lumayan banget yaaa. Dan karena beda waktu hanya satu jam, kami memutuskan untuk USG di klinik. Alhamdulillah ketemu Pak Dokter yang baik dan pengertian, jadi bisa menghemat yaa (hemat apa ngirit :D) penting lho ini hehehe.
Singkat cerita, USG pun dilakukan. Hasilnya? “Ada Kristal di ginjalnya bu”. Deg. Jujur, sewaktu dokter menyebutkan belum bisa memastikan ini masalah lambung atau ginjal saja saya sudah mulai khawatir. Lalu sekarang? Saya benar-benar khawatir. Selama ini saya tidak pernah concern tentang apa itu Kristal Ginjal ataupun Batu Ginjal. Sekarang setelah ketahuan saya punya kristal ginjal, rasanya cemas bukan main. Dan pastinya mulai menyesal, bahwa ini karena kebiasaan dan pola hidup yang buruk. Dokter pun mulai memberikan penjelasan tentang penyebab dan obat untuk menghilangkan ginjal ini. Selain beberapa jenis obat yang diresepkan, dokter juga berpesan agar saya tidak mengkonsumsi minuman bersoda (jujur kala itu memang masih sering minum), kubis dan daun bayam. Awalnya saya masih setuju tapi sampai di bagian kubis dan daun bayam (saya suka sekali bayam) saya tidak terima. Lha itu kan sayur dok, mereka baik-baik saja atuh kenapa dilarang? Saya mulai kesal, tapi suami yang menangkap sinyal kekesalan ini langsung memberi kode untuk tidak mendebat dokter itu hehehe. Tapi selain resep obat-obatan tadi, dokter juga menganjurkan untuk konsumsi perasan jeruk nipis.
Oke, setelah menyerap informasi dari Pak Dokter dan menentukan jadwal kunjungan dua minggu kemudian, kami berpamitan. Tentu saja, saya minta suami untuk tidak menebus resep dari dokter. Kenapa? Karena saya tidak suka OBAT. Tapi kalau obat patah hati boleh deeeh ihiiwww. Tapi suami tetap bersikeras untuk tebus 1 jenis obat yang menurut penjelasan dokter untuk menghancurkan si kristal. Dan tumben saya manut saja.
Iya, tapi apa hubungannya dengan Food Combining? Eh iya, maaf kepanjangan intro :D
Sabar, masih ada lanjutannya kok ini hehehe.
Jadi, walaupun saya terima keputusan suami untuk konsumsi obat resep dokter itu saya masih terus setengah hati dengan larangan makan sayur kubis dan daun bayam. Lha piye, saya suka sekali bayam, hiks. Dan rasanya juga aneh, sayuran yang nota bene kaya vitamin kok dilarang? Walaupun dokter sempat menjelaskan bahwa sayuran tersebut mengandung asam oksalat yang memicu terbentuknya kristal, saya masih tidak bisa terima sepenuhnya.
Sembari terus mikir kenapa ginjal saya menghasilkan kristal (coba permata hehehe, bercanda ya). Apa yang salah dengan pola dan asupan makanan saya? Saya bertekad untuk segera mengenyahkan kristal-kristal itu, tidak ada untungnya, rugi iya. *pahlawan bertopeng mode on*. Saya berjanji ke diri sendiri untuk memperbaiki pola makan yang mungkin salah selama ini. Dari sinilah saya ingat tentang pola makan yang digalakkan Bu Andang W. Gunawan, yaitu food combining. Saat itu saya hanya tahu yang dari Bu Andang. Pertama kali mengetahui istilah ini sekitar tahun 2004, baca buku di Gramedia dalam rangka mengisi waktu menunggu bedug maghrib di bulan ramadhan (bacanya nebeng, gak beli bukunya maklum mahasiswa ngirit :D).
Dan sebenarnya saya sempat menerapkan pola makan ini sewaktu masih jadi mahasiswa hingga lulus, walau tidak disiplin. Namun seiring waktu karena alasan bekerja (entah apa hubungannya) food combining a la saya kacau, nyaris tidak ada gunanya. Kadang sesuai aturan, kadang melenceng, bahkan tidak sama sekali. Begadang makin sering, ditambah kopi dan sesekali minuman bersoda, gorengan adalah cemilan favorit, keripik kentang teman setia lembur. Duh Gusti.
Karena sudah terasa “nikmatnya” sakit karena kristal ini, akhirnya saya mencari informasi lebih banyak tentang food combining. Saya berpendapat, mungkin pola makan ini bisa membantu saya untuk sehat sedia kala. Akhirnya saya menemukan banyak sekali informasi bahkan ada komunitas / grup pelaku Food Combining di Indonesia. Dari hasil pencarian ini juga saya jadi mengetahui tentang orang-orang hebat yang menjadi inspirator dan role model pola makan tersebut, di antaranya selain Bu Andang, ada Pak Wied Harry, Bang Erikar Lebang. Silahkan disearch ya.
![]() |
| Buah-buahan sebagai menu sarapan dalam Food Combining. Foto: Fitri Yanti |
Lalu apa itu Food Combining? Pola makan yang bagaimana? Diet khusus kah? Food Combining bukan salah satu metode diet ya. Oke, berikut sedikit tentang Food Combining yang bisa saya rangkum dari tulisan pakar FC Erikar Lebang, hasil pencarian di Google.
Food Combining (FC) adalah pengaturan pola makan yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh kita untuk menu pagi, siang dan malam hari. Pengaturan pola makan ini mengacu kepada sistem cerna tubuh terutama sistem cerna dimana apabila sistem cernanya sehat maka tubuh akan menyembuhkan dirinya dan mencari berat idealnya sendiri. FC bisa dilakukan oleh siapa saja, semua usia, semua latar belakang dan semua penyakit. Tujuan utama FC adalah ingin SEHAT.
Dengan melakukan FC secara benar maka tubuh kita mencapai kondisi Homeostasis. Homeostasis adalah kondisi ideal dalam tubuh saat seluruh fungsi berjalan dengan sempurna yaitu tubuh ber pH Netral cenderung Basa.
Dan bagaimana cara melakukan Food Combining?
Pada dasarnya Food Combining memperkenalkan pola makan yang berbasis pada 3 hal sederhana yang kemudian kita kenal menjadi Juklak (Petunjuk Pelaksanaan), yaitu :
1. Apa yang kita makan
2. Waktu makan
3. Bagaimana memakannya
Juklak ini harus di jalankan dengan benar dan disiplin baru bisa di katakan melakukan Food Combining dengan benar bukan hanya merasa melakukan.
Apa yang seharusnya dimakan oleh pelaku Food Combining ?
Secara sederhana unsur makanan yang kita kenal adalah Pati, Protein, Sayuran dan Buah.
Bagaimana waktu makan di Food Combining itu ?
Waktu Makan di Food Combining mengacu kepada ritme biologis dalam mengatur waktu dan jenis makanan yang tepat sesuai kebutuhan tubuh. Ritme biologis dikenal juga dengan RITME SIRKADIAN
04.00 – 12.00 Waktu Pembersihan
12.00 – 20. 00 Waktu Cerna
20.00 – 04.00 Waktu Penyerapan
Apa saja yang dikonsumsi di waktu-waktu itu ?
04.00 – 12.00 Waktu Pembersihan
Bangun Tidur di Pagi Hari
Tepat saat bangun pagi ketika mulut masih kering, tubuh baru saja selesai bekerja keras bermetabolisme. Hadiahi dengan segelas air hangat berperasan lemon/jeruk nipis. à yang ini disarankan juga oleh dokter yang memeriksa saya, hanya saja beliau tidak menyebutkan bersama air hangat.
Siapkan jeruk 1 buah ukuran sedang dan air hangat segelas kurang sedikit. Peraskan jeruk di atas air hangat atau peras jeruknya dulu baru di siram dengan air hangat bukan air panas
Sarapan
Ekslusif hanya buah karena sifat buah mudah cerna, ringan, tetapi memberikan asupan energi yang signifikan.
Konsumsi secara berkala sampai ½ jam sebelum makan siang. Apabila lapar konsumsi buahnya.
Bagaimana dengan makan siang dan malam?
Padu padan makanan dalam Food Combining
Pati + Sayuran
Protein Hewani + Sayuran
Yang tidak boleh adalah
Pati + Protein Hewani
Mengapa kita butuh konsumsi Sayuran Segar?
Sayuran
Sayuran adalah unsur makanan yang amat berguna sebagai PEMBENTUK BASA. Apabila di konsumsi secara benar sayuran akan mampu menetralkan pH dan menciptakan kondisi homeostatis.
Bagaimana mengkonsumsi secara benar?
Konsumsi sayuran secara segar, karena sayuran yang melewati sesi pemanasan yang akan merusak cadangan air, enzim, nutrisi dan mineral yang terkandung didalamnya.
Pada suhu 40 derajat celcius sewaktu pemanasan enzim akan mati. Hindari pengolahan sampai di atas suhu tersebut.
Jika sudah mati, makanan hanya akan menjadi sampah dalam tubuh dan ber pH asam. Itulah alasan kenapa kita harus konsumsi sayuran segar yang merupakan pembentuk basa
Food Combining mengenal tata tertib makan
Bagaimana tata tertib makan didalam Food Combining ?
Makan adalah ritual harian yang harus dilakukan secara baik, nikmati waktu makan dan lakukan tata tertib makan, yaitu :
- Sediakan waktu khusus untuk makan 25-30 menit apapun kondisinya
- Duduk dengan baik setidaknya membuat kita harus menyediakan waktu dan menyiagakan seluruh alat cerna untuk waktu ke fase makan.
- Kunyah 30-70 kali jika kurang dari itu usus halus sulit menyerap manfaat yang dibawa oleh bahan makanan. Mengunyah yang baik tidak hanya menghancurkan bahan makanan juga memberikan kesempatan pada enzim pencernaan yang ada di air liur untuk tercampur dengan baik.
- Jangan mendorong makanan dengan minuman karena akan membuat lambung dipenuhi air dan asam lambung sulit bekerja.
- Tidak terburu-buru meninggalkan tempat makan karena akan mengganggu kerja sistem cerna karena tidak bisa diproses secara sempurna.
Tentang Air
Tubuh butuh air, air sangat penting karena ¾ tubuh kita terdiri atas air. Apabila kekurangan air akan menjadi bencana dalam tubuh dan juga akan membuat pH tubuh mudah sekali bergerak ke sisi asam.
Jangan hanya mengandalkan rasa haus, karena rasa haus adalah alarm tubuh akan kebutuhan air pada level terakhir. Minum sebelum haus menyerang. 8 gelas sehari(atau 6 gelas sehari untuk lansia) adalah kebutuhan standar, apabila beraktivitas berat ataupun sakit harus ditambah.
Bagaimana cara konsumsi air?
Beri jeda antara waktu sebelum dan sesudah makan untuk minum. Konsumsi air sekitar 500 ml, satu jam sebelum mengonsumsi makanan. Bisa juga 2-3 jam sesudah makan. Tetapi di tengah waktu makan sebaiknya jangan atau tidak lebih dari ½ gelas air.
Karena memasukkan banyak air saat makan akan mengganggu kerja sistem cerna. Lambung akan menjadi penuh oleh air, kerja asam lambung untuk mematikan bakteri akan terganggu, demikian pula efektivitas enzym cerna.
Jangan sampai tubuh kekurangan air, minum sedikit dalam interval pendek. Siasati dengan menyiapkan air terlebih dahulu di botol sehingga bisa ditakar masuknya.
Tips melakukan Food Combinin dari Sang Pakar Erikar Lebang :
Kalau mau sehat, ya harus konsekuen. Kalau mau konsekuan, tentu penghalalan bersifat subyektif seperti "aduh gak suka", "wah kayaknya gak bisa", "ih, rasanya kayak apa ya?" atau rengekan sejenis, harus dibuang jauh-jauh.
Dan berpikir secara jelas dan rasional, tapi ini semua baru make sense kalau mau sehat
Kalau gak mau sehat, ya ngapain?
Jadi demikianlah sekelumit tentang FC, dan sejak akhir Januari 2015 saya menjalankan pola makan ini. Alhamdulillah terasa sekali perubahannya pada tubuh. Saya tidak lagi gampang terserang demam. Dan untuk kristal ginjalnya, sebulan setelah disiplin FC saya periksa lagi ke dokter dan hasil USG nya kala itu kristal di ginjal kiri sudah menipis hampir setengahnya, dan yang di ginjal kanan hampir habis. Sangat disayangkan, saya tidak minta print out hasil USG. Ada rencana untuk visit dokter lagi, USG dan minta print outnya. Tapi saat tubuh merasa sudah sehat, mengunjungi dokter jadi terasa tidak “wajib” lagi hehehe.
Kondisi kesehatan saya saat ini, tubuh terasa enteng, tidak mudah kecapaian, tidur teratur (sebelumnya insomnia) dan tidak ada keluhan nyeri saat PMS. Semoga semakin sehat dan semakin bersyukur.
Sampai jumpa di kisah selanjutnya :)





