Jumat, 22 Juli 2016

Dan Saya pun Memilih Food Combining

Sudaah lama sekali ini tulisan hanya jadi penghuni laptop dan usb, hiks.. Malasnya saya kumat lagi. Haduh, bukan untuk ditiru yaaa. Mari kita rajin kembali. Semangattt.
Oke, simak cerita singkat saya berikut:


Orang-orang tua kita zaman dulu itu bikin pepatah memang ada tujuan. Atau mungkin malah mereka sudah mengalami atau merasakan “cerita” di balik si pepatah itu. Dan dengan senang hatinya mempopulerkan pengalamannya lewat sebait kata-kata yang disebut pepatah. Supaya kita – kita di zaman ini tidak lagi ikut merasakan pengalaman mereka (kalo pait) atau bisa menghindari dan mempersiapkan diri. Dan ini tentunya baik untuk kita.

Pernah dengar dong ya pepatah yang mengatakan: Lebih baik mencegah daripada mengobati. Yakin deh! Kalo gak pernah, umm…pepatah ini terkenal banget lho, atau bisa kita cek aja via mbah gugel deh hehehe
Ya, saya yakin hampir seluruh penduduk Indonesia ini pernah dengar. Minimal yang emaknya, bapaknya, mertuanya, neneknya, kakeknya, temannya, sahabatnya atau siapanya lah, yang cerewet pernah mengucapkan wejangan ini. Iya kaan? *iya aja deh yaa

Lalu apa hubungannya si pepatah dengan tulisan ini? Ini pelajaran Bahasa Indonesia?. Tidak. Dan kita bukan sedang belajar pepatah ya hehehe. Di tulisan ini saya menceritakan sekelumit alasan mengapa saya menjalankan pola makan yang dikenal dengan nama Food Combining.

Jadi gini, awal tahun 2015 lalu saya sering merasa demam tiba-tiba. Kecapaian, keanginan atau kehujanan sedikit saja bisa membuat saya demam berhari-hari. Nah, pada suatu hari (ciee…) saya demam dan merasakan sakit yang lumayan hebat di perut bagian kanan. Hari pertama sampai ketiga saya masih cuek. Di hari keempat saya mulai risau dan cerita ke suami. Sebagai suami yang sayang istri (uhuk uhuk..) beliau langsung heboh dong dan ngajak periksa ke dokter dengan kalimat sakti “takutnya kenapa-napa.” Emang kenapa-napa kali Pak, lha wong sudah bilang sakit. Dan sebagai istri yang keras kepala yang malas ke dokter saya tetap keukeuh menolak dengan kalimat sakti juga “ntar aja, kalau sudah 10 hari masih sakit baru ke dokter.” Perdebatanpun dimenangkan sang istri ;)

Sepuluh hari berlalu dan ternyata perut saya masih sakit! Walaupun sudah tidak demam panas. Sesuai janji saya (harus ditepati yaa) pulang kerja malamnya diantar suami mengunjungi dokter spesialis internis di salah satu Rumah Sakit di Depok. Saat konsultasi, setelah memeriksa dan tanya jawab, Pak Dokter  menyampaikan bahwa beliau belum bisa memastikan apakah masalah lambung atau ginjal. Untuk memastikan dan menegakkan diagnosis harus dilakukan USG.  Dan beliau memberikan pilihan untuk langsung di USG di sana atau di klinik prakteknya yang lain. Pilihan ini diberikan karena biaya USG di RS jauh lebih mahal daripada di klinik. Seingat saya bedanya sekitar Rp. 450.000. Lumayan banget yaaa. Dan karena beda waktu hanya satu jam, kami memutuskan untuk USG di klinik. Alhamdulillah ketemu Pak Dokter yang baik dan pengertian, jadi bisa menghemat yaa (hemat apa ngirit :D) penting lho ini hehehe.

Singkat cerita, USG pun dilakukan. Hasilnya? “Ada Kristal di ginjalnya bu”. Deg. Jujur, sewaktu dokter menyebutkan belum bisa memastikan ini masalah lambung atau ginjal saja saya sudah mulai khawatir. Lalu sekarang? Saya benar-benar khawatir. Selama ini saya tidak pernah concern tentang apa itu Kristal Ginjal ataupun Batu Ginjal. Sekarang setelah ketahuan saya punya kristal ginjal, rasanya cemas bukan main. Dan pastinya mulai menyesal, bahwa ini karena kebiasaan dan pola hidup yang buruk. Dokter pun mulai memberikan penjelasan tentang penyebab dan obat untuk menghilangkan ginjal ini. Selain beberapa jenis obat yang diresepkan, dokter juga berpesan agar saya tidak mengkonsumsi minuman bersoda (jujur kala itu memang masih sering minum), kubis dan daun bayam. Awalnya saya masih setuju tapi sampai di bagian kubis dan daun bayam (saya suka sekali bayam) saya tidak terima. Lha itu kan sayur dok, mereka baik-baik saja atuh kenapa dilarang? Saya mulai kesal, tapi suami yang menangkap sinyal kekesalan ini langsung memberi kode untuk tidak mendebat dokter itu hehehe. Tapi selain resep obat-obatan tadi, dokter juga menganjurkan untuk konsumsi perasan jeruk nipis.

Oke, setelah menyerap informasi dari Pak Dokter dan menentukan jadwal kunjungan dua minggu kemudian, kami berpamitan. Tentu saja, saya minta suami untuk tidak menebus resep dari dokter. Kenapa? Karena saya tidak suka OBAT. Tapi kalau obat patah hati boleh deeeh ihiiwww. Tapi suami tetap bersikeras untuk tebus 1 jenis obat yang menurut penjelasan dokter untuk menghancurkan si kristal. Dan tumben saya manut saja.
Iya, tapi apa hubungannya dengan Food Combining? Eh iya, maaf kepanjangan intro :D
Sabar, masih ada lanjutannya kok ini hehehe.

Jadi, walaupun saya terima keputusan suami untuk konsumsi obat resep dokter itu saya masih terus setengah hati dengan larangan makan sayur kubis dan daun bayam. Lha piye, saya suka sekali bayam, hiks. Dan rasanya juga aneh, sayuran yang nota bene kaya vitamin kok dilarang? Walaupun dokter sempat menjelaskan bahwa sayuran tersebut mengandung asam oksalat yang memicu terbentuknya kristal, saya masih tidak bisa terima sepenuhnya.

Sembari terus mikir kenapa ginjal saya menghasilkan kristal (coba permata hehehe, bercanda ya). Apa yang salah dengan pola dan asupan makanan saya? Saya bertekad untuk segera mengenyahkan kristal-kristal itu, tidak ada untungnya, rugi iya. *pahlawan bertopeng mode on*. Saya berjanji ke diri sendiri untuk memperbaiki pola makan yang mungkin salah selama ini. Dari sinilah saya ingat tentang pola makan yang digalakkan Bu Andang W. Gunawan, yaitu food combining. Saat itu saya hanya tahu yang dari Bu Andang. Pertama kali mengetahui istilah ini sekitar tahun 2004, baca buku di Gramedia dalam rangka mengisi waktu menunggu bedug maghrib di bulan ramadhan (bacanya nebeng, gak beli bukunya maklum mahasiswa ngirit :D).

Dan sebenarnya saya sempat menerapkan pola makan ini sewaktu masih jadi mahasiswa hingga lulus, walau tidak disiplin. Namun seiring waktu karena alasan bekerja (entah apa hubungannya) food combining a la saya kacau, nyaris tidak ada gunanya. Kadang sesuai aturan, kadang melenceng, bahkan tidak sama sekali. Begadang makin sering, ditambah kopi dan sesekali minuman bersoda, gorengan adalah cemilan favorit, keripik kentang teman setia lembur. Duh Gusti.

Karena sudah terasa “nikmatnya” sakit karena kristal ini, akhirnya saya mencari informasi lebih banyak tentang food combining. Saya berpendapat, mungkin pola makan ini bisa membantu saya untuk sehat sedia kala. Akhirnya saya menemukan banyak sekali informasi bahkan ada komunitas / grup pelaku Food Combining di Indonesia. Dari hasil pencarian ini juga saya jadi mengetahui tentang orang-orang hebat yang menjadi inspirator dan role model pola makan tersebut, di antaranya selain Bu Andang, ada Pak Wied Harry, Bang Erikar Lebang. Silahkan disearch ya.

Buah-buahan sebagai menu sarapan dalam Food Combining. Foto: Fitri Yanti
Lalu apa itu Food Combining? Pola makan yang bagaimana? Diet khusus kah? Food Combining bukan salah satu metode diet ya. Oke, berikut sedikit tentang Food Combining yang bisa saya rangkum dari tulisan pakar FC Erikar Lebang, hasil pencarian di Google.

Food Combining (FC) adalah pengaturan pola makan yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh kita untuk menu pagi, siang dan malam hari. Pengaturan pola makan ini mengacu kepada sistem cerna tubuh terutama sistem cerna dimana apabila sistem cernanya sehat maka tubuh akan menyembuhkan dirinya dan mencari berat idealnya sendiri. FC bisa dilakukan oleh siapa saja, semua usia, semua latar belakang dan semua penyakit. Tujuan utama FC adalah ingin SEHAT.

Dengan melakukan FC secara benar maka tubuh kita mencapai kondisi Homeostasis. Homeostasis adalah kondisi ideal dalam tubuh saat seluruh fungsi berjalan dengan sempurna yaitu tubuh ber pH Netral cenderung Basa.

Dan bagaimana cara melakukan Food Combining?
Pada dasarnya Food Combining memperkenalkan pola makan yang berbasis pada 3 hal sederhana yang kemudian kita kenal menjadi Juklak (Petunjuk Pelaksanaan), yaitu :
1. Apa yang kita makan
2. Waktu makan
3. Bagaimana memakannya


Juklak ini harus di jalankan dengan benar dan disiplin baru bisa di katakan melakukan Food Combining dengan benar bukan hanya merasa melakukan.

Apa yang seharusnya dimakan oleh pelaku Food Combining ?
Secara sederhana unsur makanan yang kita kenal adalah Pati, Protein, Sayuran dan Buah.

Bagaimana waktu makan di Food Combining itu ?
Waktu Makan di Food Combining mengacu kepada ritme biologis dalam mengatur waktu dan jenis makanan yang tepat sesuai kebutuhan tubuh. Ritme biologis dikenal juga dengan RITME SIRKADIAN
04.00 – 12.00 Waktu Pembersihan
12.00 – 20. 00 Waktu Cerna
20.00 – 04.00 Waktu Penyerapan

Apa saja yang dikonsumsi di waktu-waktu itu ?

04.00 – 12.00 Waktu Pembersihan

Bangun Tidur di Pagi Hari
Tepat saat bangun pagi ketika mulut masih kering, tubuh baru saja selesai bekerja keras bermetabolisme. Hadiahi dengan segelas air hangat berperasan lemon/jeruk nipis. à yang ini disarankan juga oleh dokter yang memeriksa saya, hanya saja beliau tidak menyebutkan bersama air hangat.
Siapkan jeruk 1 buah ukuran sedang dan air hangat segelas kurang sedikit. Peraskan jeruk di atas air hangat atau peras jeruknya dulu baru di siram dengan air hangat bukan air panas

Sarapan
Ekslusif hanya buah karena sifat buah mudah cerna, ringan, tetapi memberikan asupan energi yang signifikan.
Konsumsi secara berkala sampai ½ jam sebelum makan siang. Apabila lapar konsumsi buahnya.

Bagaimana dengan makan siang dan malam?
Padu padan makanan dalam Food Combining
Pati + Sayuran
Protein Hewani + Sayuran
Yang tidak boleh adalah
Pati + Protein Hewani

Mengapa kita butuh konsumsi Sayuran Segar?
Sayuran
Sayuran adalah unsur makanan yang amat berguna sebagai PEMBENTUK BASA. Apabila di konsumsi secara benar sayuran akan mampu menetralkan pH dan menciptakan kondisi homeostatis.

Bagaimana mengkonsumsi secara benar?
Konsumsi sayuran secara segar, karena sayuran yang melewati sesi pemanasan yang akan merusak cadangan air, enzim, nutrisi dan mineral yang terkandung didalamnya.
Pada suhu 40 derajat celcius sewaktu pemanasan enzim akan mati. Hindari pengolahan sampai di atas suhu tersebut.

Jika sudah mati, makanan hanya akan menjadi sampah dalam tubuh dan ber pH asam. Itulah alasan kenapa kita harus konsumsi sayuran segar yang merupakan pembentuk basa

Food Combining mengenal tata tertib makan
Bagaimana tata tertib makan didalam Food Combining ?

Makan adalah ritual harian yang harus dilakukan secara baik, nikmati waktu makan dan lakukan tata tertib makan, yaitu :
  • Sediakan waktu khusus untuk makan 25-30 menit apapun kondisinya
  • Duduk dengan baik setidaknya membuat kita harus menyediakan waktu dan menyiagakan seluruh alat cerna untuk waktu ke fase makan. 
  • Kunyah 30-70 kali jika kurang dari itu usus halus sulit menyerap manfaat yang dibawa oleh bahan makanan. Mengunyah yang baik tidak hanya menghancurkan bahan makanan juga memberikan kesempatan pada enzim pencernaan yang ada di air liur untuk tercampur dengan baik. 
  • Jangan mendorong makanan dengan minuman karena akan membuat lambung dipenuhi air dan asam lambung sulit bekerja. 
  • Tidak terburu-buru meninggalkan tempat makan karena akan mengganggu kerja sistem cerna karena tidak bisa diproses secara sempurna.

Tentang Air

Tubuh butuh air, air sangat penting karena ¾ tubuh kita terdiri atas air. Apabila kekurangan air akan menjadi bencana dalam tubuh dan juga akan membuat pH tubuh mudah sekali bergerak ke sisi asam.
Jangan hanya mengandalkan rasa haus, karena rasa haus adalah alarm tubuh akan kebutuhan air pada level terakhir. Minum sebelum haus menyerang. 8 gelas sehari(atau 6 gelas sehari untuk lansia) adalah kebutuhan standar, apabila beraktivitas berat ataupun sakit harus ditambah.
Bagaimana cara konsumsi air?

Beri jeda antara waktu sebelum dan sesudah makan untuk minum. Konsumsi air sekitar 500 ml, satu jam sebelum mengonsumsi makanan. Bisa juga 2-3 jam sesudah makan. Tetapi di tengah waktu makan sebaiknya jangan atau tidak lebih dari ½ gelas air.

Karena memasukkan banyak air saat makan akan mengganggu kerja sistem cerna. Lambung akan menjadi penuh oleh air, kerja asam lambung untuk mematikan bakteri akan terganggu, demikian pula efektivitas enzym cerna.

Jangan sampai tubuh kekurangan air, minum sedikit dalam interval pendek. Siasati dengan menyiapkan air terlebih dahulu di botol sehingga bisa ditakar masuknya.

Tips melakukan Food Combinin dari Sang Pakar Erikar Lebang :
Kalau mau sehat, ya harus konsekuen. Kalau mau konsekuan, tentu penghalalan bersifat subyektif seperti "aduh gak suka", "wah kayaknya gak bisa", "ih, rasanya kayak apa ya?" atau rengekan sejenis, harus dibuang jauh-jauh.
Dan berpikir secara jelas dan rasional, tapi ini semua baru make sense kalau mau sehat
Kalau gak mau sehat, ya ngapain?

Jadi demikianlah sekelumit tentang FC, dan sejak akhir Januari 2015 saya menjalankan pola makan ini. Alhamdulillah terasa sekali perubahannya pada tubuh. Saya tidak lagi gampang terserang demam. Dan untuk kristal ginjalnya, sebulan setelah disiplin FC saya periksa lagi ke dokter dan hasil USG nya kala itu kristal di ginjal kiri sudah menipis hampir setengahnya, dan yang di ginjal kanan hampir habis. Sangat disayangkan, saya tidak minta print out hasil USG. Ada rencana untuk visit dokter lagi, USG dan minta print outnya. Tapi saat tubuh merasa sudah sehat, mengunjungi dokter jadi terasa tidak “wajib” lagi hehehe.
Kondisi kesehatan saya saat ini, tubuh terasa enteng, tidak mudah kecapaian, tidur teratur (sebelumnya insomnia) dan tidak ada keluhan nyeri saat PMS. Semoga semakin sehat dan semakin bersyukur.
Sampai jumpa di kisah selanjutnya :)

Jumat, 19 Februari 2016

Lumpia Isi Sayur

Gorengan? Langsung terbayang penganan yang gurih, lezat, dan murah :D  Yup, gorengan merupakan makanan ringan atau camilan yang popular di kalangan masyarakat kita di Indonesia. Kalau sudah mendengar kata “gorengan” langsung deh indra pengecap saya bereaksi, membayangkan mengunyah tahu isi plus cabe rawit, sshhh huhaaa…pedas-pedas lezat gitu yaa hahaha

Jadi ceritanya ini saya lagi kangen makan gorengan (selain tahu tempe polos, enggak pakai tepung), karena sejak disiplin menjalankan pola makan food combining, saya memang menghindari aneka gorengan yang gurih dan lezat itu. Gorengan yang masih kerap saya konsumsi hanyalah tahu dan tempe yang dibumbui bawang putih dan kunyit, serta sedikiit garam. Supaya masih sesuai juklak FC.

Nah pas weekend kemarin, suami juga minta dibuatkan camilan, karena cuaca lagi dingin saya langsung mikir untuk membuat gorengan. Kesempatan nih, jadwal cheating di weekend hehehe

Dan ternyata saya punya stock kulit Lumpia, yang sebenarnya salah beli, niat beli kulit pangsit untuk trial resep Batagor, eh malah beli kulit Lumpia :D *niat gak sihh Bu mau bikin Batagor

Jadilah pilihan saya jatuh pada Lumpia kali ini. Karena sudah sering bikin juga. Ya gitu deh, setelah menikah apa-apa bikin sendiri, masak sendiri. Ya masa mau minta dibikinkan Emak juga? Udah gede ini, dan tinggalnya juga berjauhan. Masa harus naik pesawat dulu mau makan Lumpia? Beli aja kakaak hehehe

Oke, supaya tidak terlalu jauh melanggar juklak FC, saya bikin Lumpia Isi Sayur. Proses bikin Lumpia ini pastinya mudah banget ya, karena kulitnya siap pakai, isinya hanya pilih beberapa sayuran yang kita suka, saya pilih rebung, wortel dan buncis, lalu tumis dengan bumbu dan rempah yang kita suka juga :D 


Sayuran untuk isi Lumpia

Saya menumis sayur sebentar saja, karena nanti kan akan digoreng lagi. Setelah isi ditumis, ambil kulit Lumpia, isi dengan tumisan sayuran, gulung, sisihkan. Setelah selesai semua, goreng di minyak yang sudah dipanaskan, saya pakainya minyak kelapa. Kenapa minyak kelapa? Karena menurut informasi yang saya baca, minyak kelapa sedikit lebih baik daripada minyak sawit J Untuk detilnya silahkan digoogling ya hehehe


Sayur yang sudah ditumis

Selesai digoreng, Lumpia lezat a la saya siap dinikmati baik dengan cabe rawit (seperti biasanya saya menikmati tahu isi) atau dengan saus special kreasi sendiri. Kali ini suami request saus dengan rasa pedas manis. Tentunya saya tambahkan sedikit air perasan jeruk nipis, supaya terasa lebih segar dan maknyuss. Nah untuk saus ini saya dapat inspirasinya contekannya dari resep Saus Pedas a la Thai-nya Mba Endang JTT. *thanks Mba Endang J


Nah, berikut resep dan step-step pembuatan Lumpia a la saya ya J


Resep Lumpia Isi Sayur

Bahan Lumpia:

1. Kulit Lumpia siap pakai (1 pack berisi 50 pcs kulit Lumpia, isian yang saya bikin cukup untuk 32 pcs kulit Lumpia)
2. 150 gram rebung (saya beli yang sudah direbus)
3. 150 gram buncis
4. 1 batang wortel (yang saya pakai berat 148 gram)
5. 3 batang daun bawang sedang
6. 3 batang seledri sedang
7. 3 siung bawang putih
8. 1 sendok makan merica butir
9. Garam secukupnya
10. Gula secukupnya
11. Minyak untuk menumis dan menggoreng

Bahan Saus Lumpia:

1. 9 butir cabai rawit merah (btw, saya penyuka pedas hehehe)
2. 3 butir cabai merah keriting
3. 3 siung bawang putih
4. 1 buah jeruk nipis
5. Garam secukupnya
6. Gula Jawa / gula merah secukupnya
7. 250 ml air


Lumpia siap digoreng

Cara Membuat:
  1. Siapkan kulit Lumpia, jika baru dikeluarkan dari freezer biarkan sebentar di suhu ruang (bisa ikuti petunjuk pada kemasannya).
  2. Isi Lumpia: sayuran (termasuk cabai dan bawang untuk saus) yang sudah dicuci bersih, rendam dalam air yang dibubuhi cuka apel atau garam sekitar 10 menit, bilas dan tiriskan. Ini gunanya untuk mengurangi resiko terpapar residu pestisida pada sayuran. Iris/potong sayuran untuk isian sesuai selera. Haluskan bawang putih, merica dan sedikit garam.
  3. Panaskan 1 sendok makan minyak, tumis bumbu halus sampai harum, masukkan rebung, wortel, buncis, daun bawang, tunggu sedikit layu, kemudian masukkan seledri. Tambahkan sedikit gula, koreksi rasa. Setelah matang angkat, sisihkan.
  4. Ambil selembar kulit, sendokkan isi dan taruh di satu sisi kulit Lumpia, lipat bagian kiri dan kanannya, gulung sambil dipadatkan. Lakukan langkah ini sampai tumisan habis.
  5. Panaskan minyak dengan api kecil, goreng Lumpia hingga matang.
  6. Saus Lumpia: giling/uleg cabai dan bawang putih yang sudah dicuci, tambahkan garam dan gula jawa. Pindahkan ke mangkuk, masukkan air dan tambahkan perasaan jeruk nipis, koreksi rasa.
  7. Lumpia goreng isi sayur siap dinikmati dengan saus pedas manis.
Lumpia Isi Sayur siap dinikmati :)

Selamat mencoba resep Lumpia Isi Sayur a la saya ;)

Rabu, 10 Februari 2016

Kidung Rindu

Terpaku ku dalam angan, mendengar kidung rindumu
Kidung yang kau dendangkan di kesunyian
Ingin ku bersenandung, tapi…
Terpaku ku dalam sepi, melihat potret sendu
Potret goresan yang tak kau acuhkan

Tidak ku dapati kau di sana
Mungkinkah kau ada?
Ku susuri lorong mimpi yang indah
Mungkin hanya ku anggap indah

Berteman sepi melewati kesunyian
Pekat dan perih tak patah arang, menarikku dalam dekapan
Tertawa ku sejenak, tenanglah kawan
Ku masih mencari kidung rindu
Ku masih mencari potret wajahmu

Tapi
Mungkinkah ku temukan?
Biarkan ku lanjutkan meski tertatih
biarkan ku lanjutkan meski terbangun dalam angan




Ditulis: Jan 13, 2016. 02.27pm

Kamis, 28 Mei 2015

Tentang Mpus: Sepenggal Kisah Si "Anak Kecil" 


Biasanya kalau pulang kerja tidak bareng suami, saya naik kendaraan umum alias ngangkot. Lumayan lah ya tiga kali naik turun angkot. Lumayan di ongkos lumayan di jarak juga. Ya kudu musti kan yaa, kalau masih milih ngantor mah hehehe. Kalau pulang kerja sendirian, turun dari angkot nyambung jalan kaki sekitar 5 menitan dari jalan raya ke rumah. Itu rute jalan pintas lewat pintu samping pagar komplek. Biar cepet, meskipun lewat jalan kecil. No problem lah ya, lha wong jalan kaki ini.

Skip lah curhatan tentang ngangkot ini ya. Lagi pengen nulis tentang si “anak kecil”. Kucing yang sempat jadi “anak” kami di tiga minggu terakhir. Biasanya, kalau lihat saya di ujung jalan, si “anak kecil” ini akan lari-lari mengejar. Entah dari mana datangnya, karena kalau siang tidak di rumah. Tidak ada orang buat jagain. Diikuti dua saudaranya yang rada kalem, tidak pakai lari, jalan biasa aja. Saya langsung gendong sebentar, sambil sibuk menenangkan mereka yang tak sabaran ingin segera masuk rumah. Seolah proses membuka kunci pintu menambah rasa lapar mereka :D Adegan selanjutnya adalah memberi makan mereka, sepiring bertiga aja, tapi dengan porsi besar tentunya. Yaiyalah yaa kalau porsi kecil mana kenyaang. Kali aja seharian tidak makan sama sekali. Ini sebenarnya masih bikin saya sedikit galau (eaaa). 
Sedih sih. Karena saat siang hari harus meninggalkan mereka dan berusaha yakin mereka akan baik-baik saja di luar rumah. *lapairmata

Tapi malam ini tidak ada yang lari-lari, hanya ada dua ekor kitten yang kalem itu nungguin di teras. Seketika saya merasakan sensasi bergetar di hati, yailaah… Sedih! Yup. Sambil merengkuh 2 makhluk lucu yang dengan polosnya melotot-lotot (lapar kali yaa), saya pangku mereka, duduk di teras menghadap ke gundukan tanah kecil di samping kamar kami. Ya, gundukan tanah itu kuburannya si “anak kecil”. Ini malam ketiga anak kecil tak menyambut saya dan suami pulang kerja. Dua malam lalu karena pulang bareng suami, kesedihan tidak begitu mencuat. Mungkin karena celetukan suami yang kadang bikin suasana terasa lucu. Atau mungkin karena ada orang lain yang merasakan kesedihan juga, jadi bagi-bagi ya, tidak semuanya saya borong :D

Anak Kecil sudah tiada. Sudah mati, meninggalkan dua saudaranya dan kami (saya dan suami) yang sudah mulai jatuh cinta dan sayang sama makhluk mungil itu. Kisah si Anak Kecil ini dimulai pada tanggal 6 Mei lalu. Saat sampai di rumah setelah pulang kerja sekitar jam 7 malam, karena sebelumnya mampir makan dulu, ada dua ekor kitten yang lucu sekali di depan rumah. Satu berwarna putih dengan sedikit warna hitam, dan yang satu hitam polos. Saya dan suami yang sebenarnya memang suka sama kucing (tapi belum pernah miara kucing bersama) langsung ajak main mereka. Seperti kitten pada umumnya, mereka lucu sekali. Mata, suara dan gerakan mereka solah-olah mengerti dengan obrolan kami. 

Singkat cerita, mereka kami ajak masuk ke dalam rumah dengan maksud ngasih makan. Kemudian baru ingat kalau kami tidak punya makanan yang bisa dimakan oleh kitten. Akhirnya kami memutuskan untuk kasih makan sosis yang merknya terkenal ituuh yang suka di iklan-iklan atlet. Ooppss.. Jadilah suami jalan ke warung buat beli sosis. Dan Alhamdulillah mereka suka. Baiklah, sementara makan sosis dulu ya babies.. 
Karena kami belum tahu kucing lucu ini asalnya dari mana, ada yang punya atau tidak, jadi kami belum mengklaim mereka. Dan malam itu duo kitten nginap di rumah. Pagi hari esoknya, setelah sarapan kami terpaksa tinggalkan mereka di luar, di teras rumah tepatnya. Sudah disediakan sosis dan air minum untuk mereka makan siang.

Amazing! Saat pulang kerja, kami melihat pemandangan yang sangat menyenangkan dan lucu. Si Anak Kecil lari-lari menyambut kami disusul si Hitam. Bahagiaa banget rasanya saat pulang kerja ada yang lari-larian nyambut kita ya. (Kucing aja yang nyambut bahagia, apalagi anak ya hehehe. Skip skip skip)
Ritual kasih makan, minum dan ngobrol berlanjut seperti malam sebelumnya. Skip lagi.
Di malam ketiga, kawanan makhluk imut, lucu nan mungil itu bertambah satu! Yes, sekarang ada 3, horee... 

Setelah tiga hari dengan keceriaan dari trio ini, kami berniat mengadopsi mereka. Karena kami juga sedikit heran, jika mereka ada yang punya, kenapa tidak ada yang cari? Akhirnya kami tanya tetangga, tapi tidak ada yang mengaku itu kucing mereka. Kalau menurut suami sih, trio ini kemungkinan anak dari si ibu kucing yang ada di rumah tetangga yang berjarak tiga rumah dari rumah kami. Karena suami saya sebelumnya pernah melihat satu ibu kucing dengan tiga anaknya yang baru lahir di teras rumah tersebut. Tapi si ibu kucing juga sudah tidak pernah terlihat lagi. Ya sudah, husnudzon saja ya :).

Bismillah, akhirnya kami adopsi lah tiga anak mungil ini. Dan kami kasih nama mereka: yang warnanya putih Witty, yang hitam Beki, yang putih totol-totol hitam Spotty (duuuh gak kreatif amat yak kasih namanya). Tapii itu cuma nama di atas kertas omongan. Karena pada kenyataannya panggilan mereka berubah jadi: Anak Kecil (karena tingkahnya yang seperti anak kecil, ini panggilan dari suami saya), Item dan Cemong :D.

Oke, sekarang kami punya tiga "anak kecil" di rumah. Makanan dan minum mereka selalu disiapkan terlebih dahulu, sebelum kami berangkat kerja. Hanya saja ada bagian yang membuat saya sedih. Mereka harus ditinggal di luar rumah selama kami ngantor :(. 
Karena di rumah tidak ada orang lain, selain kami berdua, saya dan suami (pengumuman, penting hehehe). Hari berlalu, dan mereka masih setia pada kami. Meskipun tiap pagi hari harus ditinggalkan di teras, entah kemana mereka siangnya, dan selalu menyambut kami saat pulang kerja. Bahkan saat kami harus bermalam di luar kota, waktu itu ada retret dari kantor saya ke Sukabumi, ditinggal dari Jumat pagi dan kami pulang Sabtu malam, mereka masih setia. Sebenarnya saya galau juga dengan komitmen mengadopsi mereka sementara siang harus meninggalkan mereka (masih mikirin solusi terbaiknya).

Tiga anak kecil ini makin lucu dan pintar, dan seolah sudah mengerti nama mereka masing-masing jika dipanggil. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri bagi kami di tengah-tengah suasana yang biasanya cuma bisa usilin satu orang. Ya gitu, kalau gak saya ngusilin suami, suami yang ngusilin saya :).

Hampir tiga minggu trio kitten ini menemani kami. Sampai suatu hari, saya dan suami sepakat memandikan si Anak Kecil, karena badannya kucel setelah main di luar rumah, entah main apa ya. Saya ingat di hari Minggu suami saya mandikan si Anak Kecil, yang dua lagi tidak dimandikan karena badannya masih bersih. Setelah badannya dikeringkan, si Anak Kecil dikasih makan bareng saudara-saudaranya. Siang harinya si Anak Kecil main, maghrib baru pulang. Lesu! Tidak mau makan, minum sedikit. Suami saya coba kasih makan sosis, karena sejak kami adopsi mereka sudah makan makanan khusus anak kucing. Dan tetap tidak nafsu, hanya makan sedikit sekali.

Kami bingung. Karena belum pernah benar-benar merawat kucing sendiri. Dulu saya pernah punya kucing, tapi dibantu ibu merawatnya. Setelah kami cek badannya, ternyata ada goresan dekat matanya. Seperti terkena cakaran. Kami berasumsi, kemungkinan akibat berkelahi sama kucing lain. Akhirnya kami kasih minum lagi, dengan maksud biar ada tenaga. Si Anak Kecil kami baringkan di tempat tidurnya, dipijit sebentar, kemudian diselimuti, supaya dia bisa nyaman dan tertidur. Karena malam itu kami kedatangan adik ipar dan tunangannya yang mau berkonsultasi tentang perintilan rencana pernikahan mereka, kami sedikit lupa akan si Witty yang lagi lesu.

Pagi hari, ternyata si Anak Kecil masih lemah, tidak mau makan, hanya minum saja. Saya makin khawatir. "Gak apa-apa. paling dia cuma lemes. Mudahan nanti seger lagi. Kita sediakan aja makanan dan minumnya." Kata suami saya berusaha membuat saya tenang. Terpaksa (sekali lagi, galau) kami meninggalkan Anak Kecil di tempat tidurnya yang ditaruh di atas rak di teras, dijagain dua saudaranya. Saya selimuti dia, biar gak kedinginan, saya usap-usap kepala, tengkuk dan kakinya sebelum berangkat kerja. Dia tidak bersuara. Tidak seperti biasanya yang sangat lincah. Yang suka usil, yang suka bikin gemes korban usilnya, saya dan suami ataupun dua saudaranya. Dia hanya memandang saya dengan mata sayunya. 

"Nanti makan ya sayang, minum. Ditinggal lagi ya. Baik-baik di rumah." Duh, waktu ngomong gini saya benar-benar gak tega ninggalinnya. Apa mau dikata, saya harus berangkat ke kantor, hiks hiks..

Selama di kantor saya sering teringat Anak Kecil. Gimana ya kondisinya. Saya putuskan, sepulang dari kantor ajak suami bawa Witty ke dokter. Malamnya, sesampai di depan rumah saya langsung tercekat melihat kondisi si Anak Kecil. Dia terjatuh dari tempatnya tadi pagi! Saya langsung menghambur, menggendongnya, mengusapnya, badannya ringan sekali. Ya ampun. Seketika saya merasa bersalah. Dia pasti menderita seharian. Makanan dan air minum memang berkurang, tapi bisa saja dua saudaranya yang makan. Witty juga tidak bersuara. 

Kami langsung membawa Witty naik motor ke pet shop dekat rumah yang menurut suami ada kliniknya. Kami meninggalkan dua saudara Witty yang sepertinya juga kebingungan, mereka juga belum mau menyentuh makanan yang disiapkan suami untuk makan malam mereka. 

Karena saya belum beli keranjang khusus kucing, saya gendong saja Witty layaknya anak bayi. Menggunakan pashmina, saya bungkus dia dalam dekapan saya. Sepanjang perjalanan ke klinik tak henti-hentinya kami mengajak si anak kecil ini berbicara, kami ingin dia tahu bahwa kami sayang padanya, kami ingin dia sembuh. Tiba-tiba di perjalanan Witty menegakkan kepalanya, seolah-olah dia ingin melihat keramaian jalanan, saya sempat besar hati melihatnya. "Ayo sayang lihat banyak mobil, motor. Nanti kalo kamu sembuh kita jalan-jalan ya." Begitu kata saya berusaha menghiburnya, atau menghibur kami berdua. Dan takjub, dia merespon saya! Dia mengeong beberapa kali. Alhamdulillah senangnya :).

Sesampainya di pet shop, ternyata di sana tidak ada dokter! Memang di plang nama XXXX Pet shop & Clinic, tapi ternyata yang ini cabangnya saja yang hanya berfungsi sebagai pet shop. Kliniknya ada di tempat lain, dan dokternya hanya sampai jam 8 malam, sementara saat itu sudah jam 8 lewat. Si Mas yang di pet shop menyarankan kami ke Margonda. Sementara saya dan dibantu si Mas cari info tentang klinik yang masih buka, suami pulang ambil helm, karena tadi kami tidak menggunakan helm (please, jangan tiru ini yaa..) karena buru-buru (alasan!).

Saya dan si Mas pet shop itu, mencoba menelpon beberapa no telpon klinik yang kami dapat dari hasil googling. Nihil. Tidak ada klinik yang menjawab. Mas pet shop tidak menyerah, mencoba menelpon temannya dan dijawab tapi lagi-lagi kami harus kecewa. dokternya sudah pulang. Ya sudah, berdasarkan saran si Mas, kami berniat bawa si anak kecil ke klinik di Margonda, atau kalo nanti dokternya sudah pulang, langsung ke RS Hewan di Ragunan. Saya masih berharap penuh Witty bisa tertolong, meskipun Mas pet shop bilang, jika kondisinya sudah seperti itu, biasanya tidak tertolong. Ya Allah, sembuhkan Witty.

Saya ambil lagi Witty dari keranjang, sebelumnya saya langsung beli keranjang khusus kitten dan menaruhnya di situ saat saya mencoba menelpon klinik. Mendekap Witty yang sudah sangat lemah, meskipun cemas dan sedih saya berusaha ngajak ngobrol dan seketika saya berhenti menggumam saat saya lihat perut Witty tidak lagi naik-turun. Tiba-tiba badan Witty kaku, tidak bergerak sama sekali. Ya Allah, apakah nafasnya sudah hilang? Witty sudah mati? Otomatis saya tidak mau mempercayai jawaban yang sangat mungkin, Witty mati!

Dua orang Mas-mas di pet shop langsung ngecek Witty dan mereka bilang: "Sudah nggak ada ini Kak, sudah mati kucingnya." Deg. Witty mati di gendongan saya. Tenggorokan saya tercekat, saya taruh lagi di keranjang, saya minta Mas-mas itu cek sekali lagi. Dan jawaban mereka masih sama, si Anak Kecil sudah "tidak ada". Saya tidak bisa menahan air mata. Cengeng? Iya, mungkin. Tapi saya sudah menyayangi Witty dan saya menyesal karena terlambat membawanya ke dokter. Selang beberapa menit kemudian suami saya datang, masih dengan semangat untuk membawa Witty ke klinik. Dan harus terima kalo Witty sudah pergi. Suami saya sedih! Saya jarang liat dia bersedih seperti itu. Biasanya dia bersedih jika berkaitan tentang diri saya. Kali ini dia sedih, ya karena dia juga sangat sayang pada Witty, bahkan selalu memanggil Witty dengan sebutan "anak kecil anak kecil".

Apa dikata, jodoh kami dengan Witty hanya sampai di situ. Witty yang sudah kami rawat (memang belum maksimal) dan sayangi layaknya anak sendiri, kini sudah pergi. Dengan langkah gontai kami bawa Witty pulang, setelah mengucapkan terima kasih ke Mas-mas pet shop yang sudah direpotin. Si Mas itu juga berpesan, kalo anak kucing kelihatan lesu langsung dibawa kelinik, periksakan ke dokter. Karena masih kecil, rentan terkena virus dan daya tahan tubuhnya masih lemah, begitu katanya. Dan itu menambah rasa bersalah kami. Hiks..

Sesampai di rumah, saya sempatkan foto-in Witty sebagai kenang-kenangan. Karena kemarin-kemarin belum banyak fotonya. Saya perlihatkan tubuh Witty yang kaku ke saudara-saudaranya, Beki dan Spotty, saya kasih tau mereka kalo Witty sudah mati. Ya, mungkin mereka tidak tahu bahasa saya, tapi saya yakin mereka bisa mengerti, semoga. Kami pakaikan Witty baju, menggunakan kaus putih suami saya, lalu saya bungkus lagi badannya dengan pashmina. Kami sepakat mengubur Witty di depan rumah, di samping teras dan kamar kami, supaya kalau kangen Witty bisa lihat kuburannya :) (mellow semellow melownya iniih).

Proses penguburan Witty disaksikan juga oleh si Item dan Cemong, mereka sama tertegunnya seperti saya. Sama halnya seperti kita manusia, saya yakin kucing juga mengerti tentang kematian. Saya yakin mereka mengerti bahwa Witty si Anak Kecil tidak lagi dapat bermain bersama mereka. Tidak ada lagi si Anak Kecil yang senang iseng, menjahili dua saudaranya yang sedang berbaring santai atau bahkan sedang tidur. Witty yang suka toel-toel kaki saudara-saudaranya yang sedang anteng. 

Melihat Witty dikubur membuat saya sempat dilanda penyesalan. Karena kelalaian kami, tidak segera memeriksakannya ke dokter saat dia mulai lesu. Karena kelalaian kami meninggalkan Witty di rumah seharian saat dia ternyata sakit parah. Karena ketidaktahuan kami. Kenangan bersama Witty selama tiga minggu belakangan menyeruak di pikiran saya, hingga membuat pelupuk mata saya basah (sediiiih bener ini). Saat dia ngotot menjangkau mukena saya ketika shalat. Saat dia kekurangan makanan dan suami sedang tidak di rumah, memaksa saya harus jalan ke warung (biasanya gak pernah ke warung itu, selalu suami, hikss) untuk beli sosis dengan diikuti olehnya yang kejar-kejaran bersama Beki dan Spotty. Witty yang suka melompat dari kasur ke pundak suami saat sujud. Witty yang selalu menggemaskan kami.

Witty sekarang memang sudah dikubur, memang sudah tidak bermain bersama kami dan dua saudaranya. Tapi Witty tetap menjadi kenangan indah bagi kami.
Witty sayang, terima kasih atas tiga minggu waktumu bersama kami. Tiga minggu waktumu yang memberikan keceriaan di rumah ini. Tiga minggu waktumu yang mengajarkan kami tentang belajar bersabar (mengurusi kalian layaknya bayi-bayi kecil). Tiga minggu waktumu yang mengajarkan kami tentang kepedulian kepada sesama makhluk Allah SWT.

Insha Allah.. kami akan merawat saudara-saudaramu, Beki Item dan Spotty Cemong, dengan kasih sayang kami sepenuhnya. Dengan kepedulian kami dan berjanji tidak akan lali lagi dengan lebih banyak belajar tentang kalian para kucing lucu :)

Selamat jalan Witty si Anak Kecil ku sayang.. <3












       

Kamis, 20 Februari 2014

Ikhlas

Foto: Google



“Ya sudah, ikhlaskan saja.”
“Aku ikhlas ko.”
“Ikhlas bro, tapi masih...”

Saya yakin, kalimat itu sering kita dengar. Atau bahkan kita pernah mengucapkannya. Seringkali saat kita kehilangan atau harus merelakan sesuatu yang milik kita (atau mungkin belum menjadi milik kita), dengan sendirinya kita dituntut untuk ikhlas. Benarkah?

Baiklah, karena sering sekali merasa sulit untuk "ikhlas" saya mulai belajar, nguprek-nguprek tulisan, bahkan nanya-nanya tentang IKHLAS. Jadi ini tulisan hasil "observasi" dan keinginan untuk bisa ikhlas. Silahkan di simak yaa..

Ikhlas itu apa?

Sudah banyak teori yang mengkaji tentang ikhlas. Nah biasanya teori gampang kan ya, tapi selalu ada sanggahan yang mengatakan, “ah, tidak semudah itu.” Benar kan? Kenapa? Karena memang banyak sekali godaan untuk menjaga dan menggiring hati untuk ikhlas. Bahasa singkatnya, ikhlas itu sulit :)

Teman-teman, dalam Islam ikhlas ternyata mendapat perhatian khusus. Ini karena berkaitan dengan perbuatan kita. Segala sesuatu tergantung dari niatnya. Seperti tercantum dalam hadist berikut: 

Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niatnya dan tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka ia akan mendapatkan pahala hijrah karena Allah dan Rasulullah. Barang siapa yang hijrahnya karena faktor duniawi yang akan ia dapatkan atau karena wanita yang akan ia nikahi, maka ia dalam hijrahnya itu ia hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari-Muslim)

Dalam beberapa tulisan disebutkan ikhlas adalah melakukan sesuatu, baik perkataan maupun perbuatan ditujukan untuk Allah Ta’ala semata. Allah Swt. dalam al-Quran menyuruh kita ikhlas, seperti dalam firmanNya (yang artinya): “dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yunus [10] :105)

Ada juga perumpamaan dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah ngasih perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” 

Lalu, Ikhlaskah kita?

Nah ini dia yang merupakan bahan renungan yang menarik buat saya, semoga buat teman-teman juga. Ikhlaskah kita? Jika melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan? Materi misalnya? Atau prestise?

Saya yakin teman-teman punya jawabannya masing-masing ya..

Salah satu contoh ujian ikhlas, saat kita ingin dilihat oleh orang lain saat berbuat kebaikan. Toh perbuatan baik kan ya? Sejatinya memang kalau mengikuti nafsu, kita ingin sekali perbuatan kita itu dilihat orang lain, atau teman kita misalnya. Bahkan dengan cara yang sangat halus. 

Ada sedikit cuplikan yang berkaitan dengan ikhlas ini. Sebut saja Mawar (mainstream sekali ya saya hehehe), pernah suatu kali bepergian dengan seorang temannya, Melati (nah Mawar Melati semuanya indah..), jalan-jalan di kota. Singkatnya, siang itu Mawar dan Melati ini shalat dzuhur di mesjid yang mereka jumpai saat keliling pasar. Selesai shalat, Mawar duduk di teras mesjid untuk pasang kaos kaki sembari nungguin Melati yang masih di dalam mesjid. Tak lama kemudian Melati datang, setelah dipikir siap lanjut belanja, Mawar langsung bangkit berdiri. Tapi Melati duduk lagi di teras mesjid itu, membuka tasnya, membuka dompet dan mengambil uang (tapi ditutupin tangannya). Adegan itu terlihat oleh Mawar, karena mereka memang berdekatan dan akan melanjutkan belanja bersama. Menariknya Melati ini tidak bicara sedikitpun, pun saat ditanya Mawar “eh, ada yang ketinggalan kah?”

Aksi diamnya ini tentu membuat Mawar bertanya-tanya? Kenapa ya? Dia naroh infak kali ya? Nah di sinilah letak kehati-hatian kita teman-teman. Meskipun cara itu halus sekali, ada kemungkinan untuk kita tidak ikhlas. Mawar, atau orang-orang yang lain saat itu bisa saja memuji Melati, mengatakan: “wah, dermawan sekali ya”. Wallahu ‘Alam. Ini juga akan jadi pelajaran buat saya. Dan semoga buat kita semua.

Karena niat dan tujuan kita adalah bersedekah hendaknya tetaplah seperti itu. Akan menjadi peluang tidak ikhlas jika berubah jadi ingin dilihat orang. Maka hendaknya kita berusaha menjaga niat kita.

Ibadah dan Ikhlas

Dalam beribadah kita juga harus berada dalam zona keihklasan. Di hadapan Allah, ibadah kita akan bernilai sesuai dengan keikhlasan kita.

Ini ada cuplikan dari Buku karangan Abdullah Gymnastiar a.k.a Aa Gym

NIAT YANG IKHLAS
Setiap hamba Allah memiliki kemampuan dan kemauan dalam beribadah yang berbeda-beda. Sedangkan nilai ibadah seorang hamba di hadapan Allah ditunjukkan dengan ikhlasnya dalam beramal. Tanpa keikhlasan takkan berarti apa-apa amal seorang hamba. Tidak akan ada nilainya di sisi Allah jika tidak ikhlas dalam beramal.
Niat adalah pengikat amal. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi teramat sangat penting dan akan membuat hidup ini menjadi lebih mudah, indah dan jauh lebih bermakna.

TANDA-TANDA IKHLAS SEORANG HAMBA
1. Tidak mencari populartias dan tidak menonjolkan diri
2. Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian.
Pujian hanyalah sangkaan orang kepada kita, padahal kita sendiri yang tahu keadaan kita yang sebenarnya. Pujian adalah ujian Allah, hampir tidak pernah ada pujian yang sama persis dengan kondisi dan keadaan diri kita yang sebenarnya.
3. Tidak silau dan cinta jabatan
4. Tidak diperbudak imbalan dan balas budi
5. Tidak mudah kecewa.
Seorang hamba Allah yang ikhlas yakin benar bahwa apa yang diniatkan dengan baik lalu terjadi atau tidak yang dia niatkan semuanya pasti telah dilihat dan dinilai oleh Allah SWT. Misal ketika kita menjenguk teman sakit di RS luar kota, ternyata ketika kita sampai yang bersangkutan telah sembuh dan pulang. Tentu sjaa kita tidka harus kecewa karena niat dan perjalan termasuk ongkos dan keletihannya sudah mutlak tercata dan tidak akan disia-siakan Allah.
Seorang hamba yang ikhlas sadar bahwa manusia hanya memiliki kewajiban menyempurnakan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Perkara yang terbaik terjadi itu adalah urusan Allah.
Masalah kekecewaan yang wajar adalah jika berhubungan dengan urusan dengan Allah, kecewa ketika ternyata sholatnya tidak khusyu‘, ibadahnya tidak meningkat dsb.nya.
6. Tidak membedakan amal yang besar dan amal yang kecil
7. Tidak fanatis golongan
8. Ridha dan marahnya bukan karena perasaan pribadi
9. Ringan. Lahap dan nikmat dalam beramal
10. Tidak egis karena sellau mementingkan kepentingan bersama.
11. Tidak membeda-bedakan pergaulan.

Ikhlas dalam Hidup..

Menilik tulisan Aa Gym di atas, khususnya tentang tanda-tanda orang ikhlas. Saya tertarik untuk membahas poin 5. Tidak mudah kecewa.

Ayo coba kita ingat, sudah berapa kali kita merasa dikecewakan oleh orang lain, teman, keluarga, pasangan atau rekan kerja? Sudah berapa banyak sikap kita yang menunjukkan kekecewaan itu? 

Kali ini tentang pengalaman yang lain, yang menurut saya ada kaitannya dengan ikhlas. Ini terjadi pada diri saya sendiri. Dulu, saya sempat punya hubungan serius dengan sesorang, yang niatnya akan menuju pernikahan. Saya bahagia waktu itu. Ya sangat bahagia. Namun saya, tepatnya kami, hanya manusia biasa yang bisa membuat rencana dan Allah jualah yang Maha Kuasa, yang berhak membuat keputusan untuk hidup makhluknya, termasuk saya pastinya. Jika DIA berkehendak tidak ada yang bisa menghalangi. Kami tidak jadi menikah. Itu keputusannya.

Well, layaknya orang yang tidak mendapatkan apa yang diinginkan? Jawabannya kecewa. Betul. Dan itu ternyata hanya jika kita tidak ikhlas. Tidak bisa menerima kenyataan.

“Tapi kan saya ngga jadi menikah? Saya ingin nikah dengannya, lalu batal. Saya ikhlas, tapi saya sedih pasti, kecewa.” 

Sedih, adalah perasaan wajar yang dirasakan manusia jika tidak mendapat apa yang diinginkan. Apakah kita tidak boleh kecewa? Di sini jugalah perannya ikhlas. Tidak ada perasaan kecewa jika kita benar-benar ikhlas. Kita tidak lagi perlu bersedih atas kegagalan itu. 

Yang harus kita lakukan adalah meyakini bahwa keputusan terbaik hanya dari Allah, DIA pasti mengetahui segala yang terbaik dan cocok untuk kita, sementara kita tidak tahu apa-apa. Kita hanya perlu berusaha melakukan yang terbaik, berdoa agar Allah mengabulkan permintaan, kemudian bertawakal dalam keikhlasan.

Dan kemudian hari saya sadar, ternyata selama ini saya belum benar-benar ikhlas. Sehingga saya harus merasa kecewa dan sedih. :)

Dalam perjalanan hidup kita, pastinya banyak hal terjadi, yang enak ataupun gak enak. Seringkali kita juga harus berurusan dengan yang namanya masalah. Masalah bisa datang dari mana saja, seperti nikmat dan rezeki Allah yang juga darimana saja. Entah itu masalah kesehatan, pekerjaan, keuangan, keluarga, pendidikan, pernikahan, de el el. Menghadapi satu masalah mungkin tidak terlalu sulit, beda halnya jika kita mendapat masalah yang beruntun atau istilahnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Wah kalau begini rasanya hidup kita suram, emosi mulai gak stabil, badan meriang, mellow. Pokoknya enggak banget deh hehehe.

Obatnya? Belajar ikhlas :) 
Dengan ikhlas (meskipun baru belajar) inshaa Allah sedikit bisa menenangkan hati, berpikiran jernih, sehingga bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah kita dengan baik. Wallahu ‘Alam

Lalu akan muncul pernyataan seperti yang saya tulis di atas, ikhlas itu tidak segampang mengucapkannya. Betul. Tapi, jika kita tidak mulai belajar ikhlas, kapan kita akan benar-benar bisa ikhlas? So, dari sekarang yuk kita sama-sama belajar untuk ikhlas :)

And,  at the end… (saya juga masih dan terus belajar)
Menurut saya, ikhlas itu suatu pekerjaan berat namun dapat kita lakukan tanpa kita umumkan kesulitan dan kerelaan kita untuk melakukannya. Cmiiw :)